Blog Saleh dan Emi

Ngumpulin tulisan yang berserakan

Husein Rahasia Kekekalan Semua Agama

Posted by Saleh Lapadi pada Februari 7, 2007

Husein Rahasia Kekekalan Semua Agama (Bag 1)[1] 

Antoine Bara adalah seorang Kristen yang sejak mudanya melakukan penelitian atas kehidupan dan perjuangan Imam Husein as. Penelitiannya kemudian dibukukan dan ditulis berdasarkan Injil dan ucapan-ucapan Isa as. Sebuah buku yang sulit dicari bandingannya karena ditulis oleh seorang Kristen. Ia kemudian memberikan nama bukunya “Al-Husein fi al-Fikr al-Masihi” (Husein as menurut seorang Kristen). Antoine Bara dalam bukunya menekankan tiga sisi penelitian, sastra dan emosional. Ia berhasil menggabungkan pandangan Islam dan Kristen dengan sangat baik. Ia membuat perbandingan antara kehidupan dan kesahidan Isa as dan kehidupan dan kesahidan Imam Husein as. Analisa yang dilakukannya terkadang sampai pada titik di mana ia benar-benar menuangkan kreativitasnya. Usaha ini perlu diacungi jempol oleh seorang muslim yang obyektif dan perlu dibaca.

 

Buku “Husein as menurut seorang Kristen” untuk pertama kalinya dicetak pada tahun 1978. Dan beberapa kali naik cetak yang disertai dengan tambahan-tambahan darinya. Cetakan ke empat buku ini beberapa bulan yang lalu telah dicetak. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam 17 bahasa dan di 5 universitas sebagai buku pegangan di tingkat pasca sarjana dan doktor.

Antoine Bara adalah keturunan Suriah yang memiliki warga negara Kuwait dan tinggal di sana. Ia dikenal sebagai seorang penulis sastra yang memiliki genre penulisan tersendiri. Sampai saat ini kurang lebih ada 15 jilid buku yang telah ditulisnya yang isinya kebanyakan berbicara tentang roman dan sastra. Sampai saat ini ia masih berprofesi sebagai wartawan dan saat ini adalah tahun ke 41 ia menekuni profesinya. Tulisan-tulisannya banyak mengiasi media-media terkenal. Saat ini ia adalah pimpinan redaksi majalah mingguan Al-Hawadits Network Kuwait.

Untuk pertama kalinya pada Minggu kemarin ia menginjakkan kakinya ke Iran. Ia datang ke Iran memenuhi undangan untuk menghadiri konferensi Internasional Allamah Bahrani yang ke dua (15-17 Januari 2007). Koran Kayhan segera menangkap kesempatan emas ini dengan mengajaknya melihat gedung Kayhan sekaligus mewawancarainya. Ia bersama istrinya melihat aktivitas di Kayhan. Wawancara yang semulanya direncanakan singkat ternyata molor hingga tiga jam. Hal itu karena Bara tidak sungkan-sungkan dalam menjawab pertanyaan yang dilontarkan. Semua dijawab dengan kesederhanaan dan terbuka.

Pandangan-pandangannya tentang Imam Husein as membuat dia sering disebut sebagai Kristen Syi’ah. Seorang Kristen yang bermazhab Syi’ah. Menurut Bara, Syi’ah adalah puncak dari rasa cinta ilahi. Ia menegaskan bahwa Imam Husein as tidak hanya milik Syi’ah atau kaum muslimin, tapi Husein milik dunia.

Ia menyebutkan bahwa sampai saat ini telah membaca Nahjul Balaghah sebanyak 25 kali secara sempurna. Setiap kali ia membaca, selalu saja ia menemukan poin-poin baru.

Pada akhir dari tanya jawab itu, ia mengucapkan sebuah kalimat yang luar biasa. Dengan penuh perasaan ia berkata: “Husein berada dalam hati saya”.

Soal: Sebagai pertanyaan pembuka, sudikah Anda menceritakan tentang keluarga, kehidupan, pendidikan dan aktivitas sosial Anda?

AB: Saya Antoine Bara. Lahir di Suriah pada tahun 1943. Saya memiliki empat orang saudara laki-laki dan tiga orang saudara perempuan. Saya dikaruniai empat orang anak; Talal, Maryam, Feisal dan Yusuf. Kakek-kakek saya aslinya dari daerah Najd Arab Saudi. Sejak lama mereka kemudian pindah ke suriah (Syam dahulunya). Keluarga saya berasal dari kalangan menengah. Kebanyakan keluarga saya memilih profesi sebagai tukang kayu dan pembuat alat-alat yang diperlukan oleh para petani. Saya mulai masuk sekolah SD pada sebuah sekolah swasta yang dimiliki oleh orang-orang Kristen. Setelah menamatkan SD, bersama saudara saya Habib, kami melanjutkan ke sekolah pemerintah. Kami termasuk orang Kristen pertama yang sekolah di sana. Selama ini hanya pelajar muslim yang belajar di sana.

Pertemuan pertama pelajaran agama Islam, guru kami mengajak kami ke sebuah ruangan dan berkata: “Bila kalian tidak mengikuti pelajaran ini tidak masalah. Nilai kalian bisa diberikan lewat pelajaran bahasa Arab”. Pulang sekolah, masalah ini kami bicarakan dengan ayah. Orang tua kami malah mengatakan agar kami berdua ikut pelajaran itu. Kalian harus mengetahui agama-agama dunia. Kalian pelajari budaya Islam. Kita sebagai Arab Kristen kaya dengan budaya Islam Oleh karenanya, jangan sampai kalian tidak mengetahui budaya mereka.

Nasihat ayah sangat mempengaruhi kami. Ayah juga berbicara langsung dengan guru agama dan akhirnya kami ikut kelas agama Islam. Ayah sangat berjasa dalam rangka memperkenalkan kami dengan agama Islam.

Masuk SMU, saya memilih jurusan sastra. Sejak itu saya aktif menulis. Ketika pindah ke Kuwait, saya menjadi penulis berita olah raga di harian Akhbar  al-Kuwait. Semenjak itu saya sering berpindah-pindah menulis berita olah raga, budaya, ekonomi, seni dan kabar daerah juga pernah saya lakoni. Menjadi penulis atau pimpinan redaksi koran atau majalah sudah merupakan pekerjaan saya. Kira-kira tahun ini adalah tahun ke 41 saya menekuni dunia jurnalistik.

Soal: Saat ini apa aktivitas Anda?

AB: Saat ini saya selaku direktur majalah mingguan Al-Hawadits Network. Majalah yang menyoroti masalah seni, sosial, budaya dan hukum. Tapi tidak ini saja kerja saya. Karena saya punya kontrak dengan sebagian majalah dan radio. Hanya saja saat ini konsentrasi saya pada buku-buku sastra dan roman. Saat ini saya punya buku yang saya masih saya tulis sejak 25 tahun lalu. Buku itu berjudul “Zainab; Sharkhah Akmalat Masirah” (Zainab; Teriakan yang menyempurnakan perjalanan Husein as). Sampai saat ini belum selesai. Saya memberikan kemungkinan kualitasnya masih di bawah buku saudaranya “Al-Husein Fi al-Fikr al-Masihi”.

Soal: Maukah Anda menceritakan bagaimana Anda sampai mengenal tentang Ahlul Bait, terutama Imam Husein as? Di mana Anda mulai pertama kali mengenal Imam Husein? Bagaimana itu terjadi sehingga Anda berpikiran untuk menulis tentang Imam Husein as?

AB: Semuanya terjadi begitu saja tanpa direncanakan. Apa yang saya baca dan dengan mengenai Karbala sangat sedikit. Saat masih muda dan lagi semangat-semangatnya bekerja, bersama teman-teman kami pergi menemui almarhum Ayatullah Sayyid Muhammad Syirazi. Saat itu beliau bertanya kepada saya: “Apakah engkau mengetahui tentang peristiwa Karbala? Jawab saya: “Yang saya ketahui  Karbala merupakan perang antara Yazid dan Husein”. Beliau melanjutkan: “Apakah engkau mengetahui tentang apa yang terjadi pada perang itu? “Tidak”, jawab saya.Beliau kemudian memberikan kepada saya beberapa buku tentang Karbala. Salah satunya adalah buku yang menceritakan kejadian rinci peristiwa Karbala berjudul al-Muqarram.

Sekembali dari sana, saya mulai membaca buku itu. Di samping membaca buku itu, saya secara aktif memberikan catatan-catatan di pinggir buku. Setelah sebulan saya kembali bertemu dengan Ayatullah Muhammad Syirazi. Beliau bertanya: “Apakah engkau telah membacanya? Saya menjawab: “Iya”. Selain itu juga saya memberikan catatan pinggir dalam buku tersebut. Enam bulan setelah itu, Ayatullah Syirazi meminta saya untuk memperlihatkan catatan pinggir. Setelah membacanya, beliau berkata bahwa catatan-catatan yang saya berikan atas buku itu punya nilai untuk dijadikan sebuah buku. Karena dalam catatan itu ada banyak poin-poin yang belum ditulis oleh penulis Syi’ah maupun Sunni. Karena ini ditulis oleh seorang Kristen yang tidak pernah tahu akan kesucian tokoh yang bakal ditulis. Seorang yang tidak memandang sejarah hanya dari sisi materi tapi menukik jauh mengeksplorasi sisi maknawinya. Engkau sebagai seorang Kristen yang hidup di tengah-tengah peradaban Islam memiliki gaya tulisan dan sudut pandang yang berbeda. Mendapat dorongan itu saya hanya dapat menjawab: “Usia saya masih sangat muda untuk mengumpulkan ide-ide lalu menuliskannya. Ini sebuah pekerjaan besar dan sulit”. Beliau menasihati saya: “Mulailah bekerja! Allah dengan berkah Imam Husein as akan menolongmu”.

Semenjak itu saya mulai menulis. Namun, setiap kali saya mulai untuk menulis, terasa bahwa pekerjaan ini semakin sulit. Karena pekerjaan ini akan menyebabkan sebagian kelompok akan senang dan sebagian lainnya tidak senang. Khususnya, banyaknya data-data sejarah yang saling kontradiksi. Hal ini membuat saya sedang berjalan di antara ranjau. Jalur yang saya pilih merupakan tempat persimpangan akidah dan mazhab yang memiliki masa lalu dimulai dari peristiwa Saqifah hingga pembantaian Karbala. Di sini ada kelompok yang pro dan ada yang kontra.

Sebagian seperti Ibn Qayyim al-Jauzi mengatakan bahwa kesalahan terbesar adalah kebangkitan dan perlawanan Husein. Sementara sejarawan lain menyebutkan bahwa gerakan Husein merupakan pergerakan yang berlandaskan akidah.

Dari sini saya melihat bahwa betapa penting dan riskannya saya selaku seorang Kristen melihat masalah ini. Karena saya bukan seorang muslim sehingga tidak dipengaruhi secara emosional oleh kejadian. Saya bukan pula seorang orientalis yang tidak punya kepedulian mengkaji sisi emosi dan maknawi dari peristiwa Karbala.

Untuk menulis buku ini, saya melakukan rujukan terhadap ratusan sumber. Cukup lama saya melakukan penelitian. Setiap kali mulai menulis, saya merasa ikut secara emosi dan berkali-kali pula saya menghapus dan mulai menulis lagi sampai benar-benar saya puas dengan hasil tulisan saya sendiri. Penelitian yang saya lakukan menghabiskan waktu 5 tahun. Setelah itu saya mulai menulis. Dalam proses menulis buku ini, saya merasakan ada kekuatan yang tidak terlihat yang mendorong dan memacu saya untuk menyelesaikan tulisan. Sekarang, 32 tahun berlalu semenjak saya menulis buku ini. Dengan pengalaman di dunia jurnalistik, saya tidak yakin dapat menghasilkan karya lebih dari buku ini. Buku ini punya arti tersendiri buat saya dibandingkan 15 buah buku saya yang lain. Karena pengaruh dan reaksi yang indah dan positif muncul dalam usaha saya menulis buku ini. Analisa rasional yang saya pakai dalam mendekati masalah Karbala membuat saya pada sebuah capaian. Saya merasa berhasil membuka cakrawala baru dalam mengkaji masalah Karbala.

Soal: Anda telah berbicara banyak mengenai buku “Husein as menurut seorang Kristen”. Kami akan sangat berterima kasih bila Anda mau berbicara lebih lanjut mengenai kekhususan buku ini?

AB: Kelebihan buku ini adalah cara pandang terhadap masalah. Perbedaan itu baik dari sisi kaum muslimin sendiri atau dari penulis-penulis orientalis. Kebanyakan orang yang telah membaca buku ini menyimpulkan bahwa ia ditulis dengan menjaga sikap obyektif, tidak memihak.

Kekhususan lain yang dimiliki adalah berusaha untuk melakukan perbandingan antara pribadi Husein dan Isa, baik dari sisi cara pandang, sikap, tindakan, ucapan dan cara mereka menemui kesahidan karena memperjuangkan akidah dan keyakinannya. Saya melihat banyak kesamaan antara pribadi Husein dan Isa sebagai seorang martir dan bukan sebagai seorang Nabi. Berkenaan dengan kehidupan dan kesahidan Husein saya banyak melakukan penelitian. Sungguh menakjubkan, banyak saya temukan perilaku, tindakan, ucapan, cara menyampaikan keyakinan dan bagaimana membela keyakinannya memiliki kesamaan dengan Isa. Ini satu hal yang baru buat saya. Tema ini secara terperinci saya kaji yang memunculkan pertanyaan mengapa kedua orang ini lebih memilih mati. Terlebih buat Husein yang masih punya kesempatan untuk meraih keuntungan material. Ia dapat saja memilih kedudukan dan kekayaan duniawi bila sedikit menunjukkan kelenturannya dalam menyikapi keadaan yang ada. Ia dapat saja menerima keinginan Muawiyah dan Yazid. Dengan mudah ia dapat menyelamatkan dirinya dari kematian. Namun, berdasarkan ayat, “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah” (at-Taubah: 41), ia melakukan pergerakan yang luar biasa. Ia tidak memedulikan semua pangkat, kedudukan dan kekayaan. Sementara itu pada saat bersamaan, para pencinta dunia tamak akan semua itu. Husein meninggalkan semua itu dan menuju pada jalan kesahidan. Dalam usahanya menuju jalan kesahidan ia tidak lupa membawa keluarganya menuju syahadah. Ia tahu betul bahwa mereka berada di jalur akidah.

Soal: Kami mendengar bahwa pada cetakan keempat ini Anda melakukan revisi serta menambahkan tulisan lain sehingga buku ini terlihat lebih berisi dan kaya. Apakah Anda mau memberikan penjelasan lebih lanjut?

AB: Pada cetakan keempat, saya menambahkan komentar-komentar dari tokoh-tokoh kaum muslimin; baik dari Sunni maupun Syi’ah. Komentar yang pernah dimuat di media. Begitu juga saya menambahkan tentang pemberitaan buku ini. Karena buku ini sempat di meja hijaukan oleh pemerintah Kuwait dan dilarang peredarannya. Tambahan lain adalah adanya 50 gambar yang dihasilkan oleh seniman Iran dan Arab yang menggambarkan bagaimana terjadinya peristiwa Karbala. Gambar-gambar ini saya letakkan di akhir buku. Yang lebih penting dari semua itu adalah penambahan sumber-sumber rujukan baru yang tidak terdapat pada cetakan sebelumnya. Ringkasnya, cetakan ke empat merupakan hasil usaha penelitian baru selama 20 tahun dengan analisa yang lebih rinci dan detil guna memperkaya buku ini. Alhamdulillah, cetakan keempat ini telah dicetak dan lebih bisa diterima.

Soal: Pelarangan peredaran buku Anda seperti apa?

AB: Masalah di meja hijaukan buku ini merupakan hal yang aneh. Mengapa saya katakan aneh, karena sangkaan itu berdasarkan ibarat tentang kepemimpinan Utsman atas kaum muslimin, cara ia memerintah dan bagaimana masyarakat melakukan demonstrasi terhadapnya. Saya menukil ibarat-ibarat itu dari buku rujukan yang paling dipercaya. Buku yang saya jadikan rujukan ada tersimpan rapi di perpustakaan Kuwait. Pada tahun 1986 ada surat panggilan dari pengadilan untuk saya. Alasannya adalah ibarat yang saya pakai tentang Utsman merupakan hasil karangan saya belaka dan tidak ada data yang jelas.

Untuk membuktikan ketidakbersalahan saya, puluhan rujukan dan buku yang menulis tentang Utsman saya bawakan dan perlihatkan kepada mereka. Saya katakan bahwa masalah ini sangat jelas dan tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Bahkan, yang menarik, saya menemukan ibarat yang lebih keras di sebuah majalah al-Arabi yang berafiliasi dengan Kementrian Penerangan Kuwait. Ibarat yang ada dengan isi yang sama, namun dengan nada keras berbicara tentang Utsman.

Ironisnya, karena sejak awal niat mereka adalah berusaha agar buku ini tidak diterbitkan, pertama mereka menuntut saya mengganti rugi sebesar 50 dinar. Setelah itu terbit pelarangan dan penarikan kembali buku ini. Saya tidak terima. Saya minta naik banding. Dalam pengadilan banding, saya membawakan data-data sejarah kira-kira setebal 150 halaman. Hakim pada pengadilan banding, tanpa berusaha mau melihat data-data yang saya bawakan, yang kesemuanya dari buku-buku Ahli Sunah, ia memenangkan amar putusan pengadilan sebelumnya. Saya dapat merasakan bagaimana hakim punya niat tidak baik sejak awal. Saya tahu betul bahwa hakim punya hubungan erat dengan gerakan salafi.

Setelah lama berlalu, pada akhirnya saya tahu bahwa apa yang terkait dengan Syi’ah bakal disidangkan dan pasti putusannya adalah pelarangan peredaran. Pada akhirnya, buku saya pada tahun itu termasuk yang berada di daftar buku-buku hitam yang dilarang terbit.

Dengan kejadian itu, saya berkesimpulan untuk tidak mencetak untuk keduakalinya. Semenjak itu, kurang lebih selama 20 tahun, yang saya lakukan adalah mengedit kembali dengan memberikan tambahan. Saya hanya melakukan itu hingga dua tahun terakhir saya melangkah lebih jauh dengan terjun langsung melakukan lay out dan mencetaknya. Akhirnya cetakan baru keluar tanpa kekurangan dan kritik.

Soal: Apa reaksi dan respon pembaca buku Anda?

AB: Setelah buku itu terbit, kira-kira 3 bulan, salah seorang salafi yang ekstrim menulis buku dengan judul “Yazid Amir al-Mukminin” (Yazid pemimpin kaum mukminin), yang tujuannya sebagai jawaban dan kritikan atas buku saya. Ia salah seorang pengikut kelompok yang sesat. Dengan semua fasilitas yang dimilikinya berusaha untuk menyesatkan pemikiran Islam dan Syi’ah. Ia membawa bukunya untuk dicetak di percetakan di mana buku saya dicetak. Pimpinan percetakan yang melihat gelagat tidak baik, lantas memintanya untuk mendapatkan izin cetak terlebih dahulu baru dicetak. Ucapan ini membuatnya tidak jadi memaksakan bukunya untuk dicetak. Setelah setahun, saya baru tahu kalau buku itu dicetak di Arab Saudi. Buku ini isinya penuh dengan hinaan dan cemoohan yang dipengaruhi oleh pemikiran Ibn Jauzi.

Selain buku di atas, ada beberapa buku lain yang diterbitkan. Buku-buku ini pada bagian-bagian tertentu dari pembahasannya sedikit banyaknya berusaha melakukan kritik atas buku saya. Begitu juga di media massa dengan mudah dapat ditemukan, baik dahulu atau sekarang, tulisan-tulisan yang melakukan kritik. Semua itu dilakukan oleh kaum muslimin ekstrim.

Dari sisi lain, banyak dari kalangan muslim, baik itu Sunni atau Syi’ah, memberikan pujian atas keberadaan buku ini. Buku ini mencerminkan rasa persatuan dan mencoba melihat masalah secara lebih obyektif. Menurut mereka, sikap obyektif yang tercermin dari buku ini merupakan kelebihan buku ini. Mereka menegaskan bahwa buku ini ditulis jauh dari sikap fanatik dan tendensi tertentu. Gaya kajian buku ini mempergunakan metode rasional dan tidak memihak.

Mereka yang kontra mengatakan bahwa semua yang tertulis dalam buku ini tidak benar. Semua kesamaan antara Husein dan Isa, pada kenyataannya tidak ada. Bila nampak seperti ada kesamaan, maka itu hanya kebetulan saja.

Secara umum, setelah peluncuran buku ini, banyak yang pro dan kontra, namun yang pro lebih banyak.

Soal: Anda sendiri melihat bagaimana reaksi ulama Islam dan para pendeta tentang buku ini?

AB: Di kalangan kaum muslimin, kebanyakan ulama Syi’ah dan sebagian kelompok dari ulama Ahli Sunah menunjukkan sikap positif atas terbitnya buku ini. Mereka menyebutkan sebuah buku yang menganalisa secara rasional, indah dan perlu dibaca. Buku ini mampu menjaga sikap obyektif. Ulama Syi’ah secara keseluruhan memberikan penilaian bahwa buku ini membawa ide-ide yang benar-benar baru, teori dan analisa yang diberikan lahir dari kreativitas penulis. Sementara sebagian ulama salafi yang ekstrim menganggap muatan buku ini tidak benar dan memuat ajaran dan keyakinan Syi’ah.

Ilmuwan dan para pendeta menunjukkan sikap positif. Mereka memuji hasil kerja saya. Bahkan sebagian dari mereka sangat senang dengan diterbitkannya buku yang seperti ini. Mereka berkeyakinan usaha ini adalah upaya untuk mendekatkan agama-agama dan mencoba menyatukan perbuatan para wali dan Nabi.

Umumnya, mereka yang mengkritik buku ini tidak memiliki dalil dan data yang cukup. Saya sendiri melihat bahwa kritikan itu lahir dari sikap fanatik dan tendensi tertentu. Kefanatikan mereka begitu besar sehingga menutup mata mereka untuk menanyakan, mengapa cucu Nabi harus melakukan penentangan atas penguasa? Semua fasilitas tidak digubrisnya, malah mengajak keluarga menuju jalan yang penuh bahaya. Apakah tujuan Husein bersifat pribadi? Bila untuk itu, ia tidak akan membahayakan dirinya. Namun, kita melihat bagaimana setelah berabad-abad, generasi demi generasi, ide dan jalan yang ditempuh Husein disucikan. Jutaan manusia mengingat Husein dengan penghormatan. Apakah ini bukan rahasia ilahi?

Ada yang mengkritik saya dengan mengatakan bahwa apakah engkau seorang muslim sehingga harus menulis tentang Husein? Jawaban saya: “Bagaimana mungkin seseorang tidak tertarik dan luruh di hadapan pribadi sebesar Husein yang berasal dari keturunan Nabi, Ali dan Fathimah Zahra? Dalam catatan sejarah tidak pernah dalam kehidupannya tidak pernah ditemukan ia menunjukkan kesan lemah dan hina. Saya tidak sendiri disedot oleh karisma dan kepribadian Husein. Lihatlah Gandi! Seorang Hindu yang mengatakan bahwa bila kalian ingin menang dalam perjuangan, maka berjalanlah di jalur Husein. Saya belajar dari Husein untuk menjadi mazlum agar dapat menang”.

Apakah Gandi seorang muslim sehingga ia harus mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu? Atau Jibran Khalil Jibran seorang Kristen yang berbicara tentang Husein. Ia berkata: “Husein adalah pelita yang menerangi semua agama”. Saya juga ingin menggambarkan sosok itu, “Husein rahasia kekekalan semua agama”.

Soal: Di dalam Islam banyak pribadi agung yang dapat menjadi teladan, khususnya di Syi’ah ada para Imam seperti Imam Ali as. Mengapa Anda memilih Zainab dan Husein as? Apakah selain keduanya, Anda punya tulisan juga?

AB: Pertanyaan bagus. Dalam buku ini, saya menuliskan ibarat yang berbunyi, “Islam dimulai oleh Muhammad dan kelanjutannya oleh Husein. Perjuangan Karbala dimulai oleh Husein dan kelanjutannya oleh Zainab”. Tuhan pada masa tertentu akan memilih sekelompok orang yang mampu menghidupkan hati manusia. Husein merupakan sebagian dari penghidup itu. Dengan pergerakan yang dilakukannya banyak “orang mati” yang hidup kembali. Dengan segala penghormatan terhadap semua Imam as, terutama Imam Ali as yang begitu dicintai oleh sebagian besar orang-orang Kristen Arab, perjuangan yang dilakukan oleh Husein merupakan perjuangan yang jelas dan dicatat oleh sejarah dan pengaruhnya tertanam dalam hati manusia. Percikan api yang terjadi di Karbala saat ini bak sinar lampu yang menerangi sejarah kehidupan manusia. Lihat bagaimana lampu sementara yang coba dinyalakan oleh Muawiyah dan Yazid telah mati dan lenyap. Saat ini apa yang Anda ketahui tentang kuburan Yazid? Siapa yang menghormati kuburannya? Di Suriah, kuburannya telah berubah menjadi tempat sampah, tempat kucing mengasi makanannya. Bandingkan dengan beberapa meter dari kuburannya, tempat kepala Husein dikuburkan. Tempat itu dihormati oleh kaum muslimin. Penghormatan kepada para Imam as, saya tunjukkan dengan alasan memilih Husein.

Perlu diketahui bahwa sekaitan dengan Imam Ali as, saya juga melakukan kajian tentangnya. Saya meneliti Imam Ali as berbarengan atau di sela-sela penelitian saya terhadap Husein. Saya telah membaca Nahjul Balaghah sebanyak 25 kali. Dan setiap kali saya membacanya terungkap poin-poin baru. Dalam tulisan-tulisan saya, bahkan dalam buku ini, ucapan-ucapan Imam Ali as banyak menghiasi. Sampai saat ini, ada beberapa artikel yang saya tuliskan tentang Imam Ali as.

Soal: Setela melakukan kajian panjang dan dalam sejarah Islam tentang pribadi Imam Husein as, bagaimana sekarang Anda mendefinisikan Imam Husein as. Dengan ibarat lain, bagaimana Anda melihat dan mendefinisikan Imam Husein as?

AB: Definisi saya tentang Husein sama dengan ibarat pendek tentangnya dalam buku ini. Saya menyebutnya, “Husein rahasia kekekalan semua agama”. Saya memperkenalkan Husein sebagai martir yang tidak memiliki kedudukan dan kekayaan seperti Fir’aun dan Kisra. Husein begitu rendah hati dan untuk menjaga agama dan bergerak pada jalur kakeknya ia mulai menapaki jalannya. Ia memulai dengan berdialog dengan Muawiyah dan Yazid. Sayangnya, metode dialog tidak mempan. Husein tahu bakal terbunuh tapi ia tetap memilih jalan penuh bahaya itu. Dengan pasukan kecil berjumlah 70 orang ia menghadapi 70 ribu pasukan Ubaidillah. Ia dan pasukannya bergerak menuju Kufah agar pergerakan ini dapat menyentuh masyarakat.

Perjuangan Husein tidak khusus milik Sunni dan Syi’ah. Perjuangan Husein miliki setiap orang mukmin. Itu yang diungkapkan oleh hadis, “Sesungguhnya pembantaian Husein membuat gejolak di dada orang mukmin yang tidak bakal padam selamanya”. Hadis ini tidak menyebutkan di dada muslim, melainkan mencakup setiap manusia bebas yang percaya akan jalan dan cara Husein. Oleh karenanya, setiap pemikir yang menyadari sejarah Husein bakal tertarik dan mengikutinya, sebagaimana mereka tertarik dan mengikuti jalan dan cara Ali bin Abi Thalib as.

Soal: Dalam buku Anda, disebutkan bahwa Nabi Isa as mengetahui kedatangan Husein ke Karbala. Nabi Isa as juga memberikan kabar tentang Husein. Apakah klaim Anda ini bisa dibuktikan?

AB: Iya! Argumentasi saya semuanya bisa ditemukan di Injil. Dalam sejarah disebutkan bahwa Isa sempat pergi ke Karbala. Isa as kemudian berkata kepada Bani Israil: “Barang siapa yang menemui Husein di sana, hendaknya ia menolongnya”. Sebagian meragukan riwayat sejarah ini. Saya tidak melihat ada keraguan tentang masalah ini. Karena Isa as memiliki banyak mukjizat. Ia dapat menghidupkan orang mati dan dapat pula menyembuhkan penyakit yang sulit sembuh. Oleh karenanya, apakah sulit buat dia untuk membuka rahasia masa depan dan mengatakan siapa yang bakal menjadi martir setelah dirinya?

Soal: Anda melakukan kajian yang luas dan mendalam mengenai kehidupan dan ucapan-ucapan Imam Husein as. Sisi mana dari pribadinya yang paling menarik perhatian Anda?

AB: Pertanyaan indah. Saya sangat tertarik pada sisi revolusioner dari pribadi Husein. Ketika keluar untuk melawan ia berkata: “Saya tidak melawan dengan alasan hawa nafsu, kesenangan, kerusakan dan kezaliman. Aku bangkit melawan untuk memperbaiki umat kakekku dan berdasarkan amar makruf dan nahi mungkar”. Semangat revolusioner semacam ini dapat menciptakan mukjizat. Pada tahun-tahun terakhir kita dapat melihat kemenangan revolusi, kemuliaan dan kebanggaan. Masyarakat Iran dengan pemimpinnya bahu membahu bangkit melawan hegemoni dan kezaliman berdasarkan filsafat ini.

Sisi lain dari kepribadian Husein yang sangat menarik perhatian saya adalah kerendahan hati di samping semangat revolusioner yang dimilikinya. Ini dua sifat yang tidak mungkin berdampingan pada diri seseorang. Sikap rendah hati merupakan sifat orang-orang pilihan Tuhan. Husein di samping memiliki semangat harga diri dan kebebasan di hadapan musuh, juga rendah hati. Ini sifat mulia yang menjadi kekhususan Husein.

Bersambung…


[1] . Wawancara dengan Antoine Bara pemikir Kristen yang menulis buku “Al-Husein fi al-Fikr al-Masihi” (Husein as Menurut Seorang Kristen). Wawancara ini dilakukan oleh harian Kayhan berbahasa Parsi di kantor Kayhan selama tiga jam dan dimuat di koran Kayuhan pada tanggal 24 Januari 2007.

3 Tanggapan to “Husein Rahasia Kekekalan Semua Agama”

  1. ibnu thabrani said

    Pengkhianatan Terhadap Ahlul Bait

    Oleh : Abu Hanan Sabil Arrasyad

    Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada yang menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah, maka tidak akan ada yang memberi petunjuk kepadanya.

    Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah seorang hamba dan utusan-Nya.

    Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan. Setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan ada di neraka.

    “Akan datang pada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan, dibenarkan orang yang berdusta dan didustakan orang yang jujur, dipercaya orang yang khianat dan dikhianati orang yang amanah…” (HR. Ibnu Majah 4042, disahihkan al-Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah 1887)

    “Tanda orang-orang munafik itu ada tiga keadaan. Pertama, apabila berkata-kata ia berdusta. Kedua, apabila berjanji ia mengingkari. Ketiga, apabila diberikan amanah ia mengkhianatinya” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Diantara ciri yang paling menonjol dari orang-orang munafik adalah kebiasaan mereka berdusta dan kelakuan mereka yang selalu mengingkari janji dan berkhianat. Dan diantara ciri khas para penghianat adalah dia tidak membedakan bersama siapa dia berkhianat serta bersama siapa dia dapat dipercaya. Sungguh kedustaan adalah bagian dari penyakit nifaq yang apabila telah mengalir dalam darah seseorang akan menjadikannya sebagai seorang penghianat, walaupun kepada orang-orang yang paling dekat dengannya.

    Orang-orang Syiah yang ghuluw (berlebihan) dalam mencintai Ahlul bait, terutama kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, sesungguhnya telah tampak dengan jelas penghianatan mereka sejak periode pertama gerakan Tasyayyu’ (Menjadi Syiah), pada saat fitnah berkobar diantara dua orang sahabat Nabi yang mulia, Ali dan Muawiyah Radhiyallahu anhuma.

    Maka ditulislah risalah ini di tengah badai fitnah ketika sejarah Islam diselubungi kabut tebal kedustaan (taqiyyah) pemahaman para penghianat dan pendusta yang memutar balikkan sejarah dengan berlindung di balik kata-kata cinta kepada Ahlul bait padahal sesungguhnya merekalah orang-orang berada dibarisan terdepan dalam menghianati Ahlul bait.

    Sikap Para Pengkhianat Terhadap Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu

    Sebagian besar pendukung (syiah) Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu adalah penduduk Iraq, terutama penduduj Kufah dan Bashrah. Ketika Ali berkeinginan untuk pergi berperang bersama mereka ke Syam, setelah berhasil meredam fitnah Kaum Khowarij (salah satu sekte pecahan syiah Ali sendiri yang malah mengkafirkan Ali bin Abi Thalib), mereka malah meninggalkan beliau Radhiyallahu Anhu padahal sebelumnya mereka telah berjanji untuk membantunya dan pergi bersamannya. Tetapi dalam kenyataannya, mereka semua membiarkannya, dan mereka mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, anak panah kami telah musnah, pedang-pedang dan tombak-tombak kamu telah tumpul, maka kembalilah bersama kami, sehingga kami menyediakan peralatan yang lebih baik” Kemudian Ali Mengetahui, bahwa semangat merekalah yang sesungguhnya sudah tumpul dan melemah, dan bukan pedang-pedang mereka. Mulailah mereka pergi secara diam-diam dari tempat tentara Ali Bin Abi Thalib dan kembali ke rumah mereka tanpa sepengatahuan beliau, sehingga kamp-kamp militer tersebut menjadi kosong dan sepi. Ketika beliau melihat hal tersebut, beliau kembali ke Kufah dan mengurungkan niatnya untuk pergi.

    Ali Bin Abi Thalib mengetahui bahwa perkara apa pun tidak dapat mereka menangkan walaupun mereka telah berbuat adil dan beliau adalah seorang yang adil walaupun kepada para pendukung beliau, beliau tidak dapat menyembunyikan kekesalannya dan persaksiannya terhadap para penipu ini kemudian berkata kepada mereka, “Kalian hanyalah pemberani –pemberani dalam kelemahan, serigala-serigala penipu ketika diajak bertempur, dan aku tidak percaya pada kalian…kalian bukanlah kendaraan yang pantas ditunggangi, dan bukan pula orang mulia yang layak dituju. Demi Allah sejelek-jelek provokator perang adalah kalian. Kalianlah yang akan tertipu, dan tidak akan dapat merencanakan tipu daya jahat, dan kebaikan kalian akan lenyap dan kalian tidak dapat menghindar”

    Yang anehnya lagi, para pendukung (syiah) Ali di Iraq ini tidak hanya mundur dari medan perang ke Syam bersama beliau, tetapi mereka juga takut dan keberatan untuk mempertahankan wilayah mereka sendiri. sementara pasukan Muawiyah telah menyerang Ain At Tamr dan daerah-daerah Iraq yang lain. Mereka tidak tunduk terhadap perintah Ali untuk mempertahankannya, sampai-sampai Amirul Mukminin Ali berkata kepada mereka,”Wahai penduduk Kufah, setiap kali kalian mendengar kedatangan pasukan dari Syam, maka setiap orang dari kalian masuk ke dalam kamar rumahnya dan menutup pintunya seperti masuknya biawak ke persembunyiannya dan hyena ke dalam sarangnya….Orang yang tertipu adalah orang yang kalian bodohi, dan bagi yang menang bersama kalian, adalah menang dengan bagian yang nihil. Tidak ada orang-orang yang berangkat ketika dipanggil, dan tidak ada saudara-saudara yang dapat dipercaya ketika dibutuhkan. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan hanya kepadaNya kita kembali” .

    Sikap Para Pengkhianat Syiah terhadap Al Hasan bin Ali Radhiyallahu anhu.

    Ketika Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu terbunuh oleh Ibnu Muljam (seorang khowarij yang tadinya termasuk syiah Ali namun mengkafirkan beliau setelah itu), Al Hasan Radhiyallahu anhu dibaiat menjadi khalifah, dan beliau yakin tidak dapat berhasil perang melawan Muawiyah. Terutama setelah sebelumnya sebagian pengikutnya di Iraq telah meninggalkan ayahnya. Tetapi para para pengikut mereka di Iraq kembali meminta Al Hasan untuk memerangi Muawiyah dan penduduk Syam, padahal jelas-jelas sebenarnya Al Hasan berkeinginan menyatukan kaum muslimin saat itu, karena beliau faham sekali tentang kelakuan orang-orang syiah di Iraq ini yang beliau sendiri membuktikan hal tersebut, Ketika beliau menyetujui mereka (orang-orang syiah di Iraq) dan beliau mengirimkan pasukannya serta mengirim Qais bin Ubadah di bagian terdepan untuk memimpin dua belas ribu tentaranya, dan singgah di Maskan, ketika Al Hasan sedang berada di Al Mada’in tiba-tiba salah seorang penduduk Iraq berteriak bahwa Qais telah terbunuh. Mulailah terjadi kekacauan di dalam pasukan, para maka orang-orang syiah Iraq kembali para tabiat mereka yang asli (berkhianat), mereka tidak sabar dan mulai menyerang kemah Al Hasan serta merampas barang-barangnya, bahkan mereka sampai melepas karpet yang ada dibawahnya, mereka menikamnya dan melukainya. Dari sinilah salah seorang penduduk Syiah Iraq, Mukhtar bin Abi Ubaid Ats Tsaqafi merencanakan sesuatu yang jahat, yaitu mengikat Al Hasan bin Ali dan menyerahkan kepadanya, karena ketamakannya dalam harta dan kedudukan. Pamannya yang bernama Sa’ad bin Mas’ud Ats Tsaqafi telah datang, dia adalah salah seorang wali dari Mada’in dari kelompok Ali. Dia (Mukhtar bin Abi Ubaid) bertanya kepadanya, “Apakah engkau menginginkan harta dan kedudukan? Dia berkata, “Apakah itu?” Dia Menjawab,”Al Hasan kamu ikat lalu kamu serahkan kepada Muawiyah” Kemudian pamannya berkata “ Allah akan melaknatmu, berikan kepadaku anak putrinya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ia memperhatikannya lalu mengatakan, kamu adalah sejelek-jelek manusia”

    Maka Al Hasan radhiyallahu anhu sendiri berkata “ Aku Memandang Muawiyah lebih baik terhadapku disbanding orang-orang yang mengaku mendukungku (Syiahku), mereka malah ingin membunuhku, mengambil hartaku, demi Allah saya dapat meminta dari Muawiyah untuk menjaga keluargaku dan melindungi keselamatan seluruh keluargaku, dan semua itu lebih baik daripada mereka membunuhku sehingga keluarga dan keturunanku menjadi punah. Demi Allah, jikalau aku berperang dengan Muawiyah niscaya mereka akan menyeret leherku dan menganjurkan untuk berdamai, demi Allah aku tetap mulia dengan melakukan perdamaian dengan Muawiyah dan itu lebih baik disbanding ia memerangiku dan aku menjadi tahanannya”

    Maka para penghianat ini sebenarnya amat benci terhadap Al Hasan bahkan keturunannya, namun mereka berusaha menutup-nutupinya, maka mereka (syiah rafidhoh imamiyah) mengeluarkan keturunan Al Hasan dari silsilah para Imam ma’shum versi mereka yang mereka mengangkat Imam-Imam mereka itu bahkan diatas kedudukan para Nabi dan malaikat terdekat dengan Allah (tulisan Khumaini dalam, al hukumah islamiyah hal 52), walaupun demikian agar tidak terbongkar kebencian mereka ini mereka tetap mencantumkan Al Hasan dalam deretan Imam mereka. Itulah cara dan memang tabiat mereka untuk menipu kaum muslimin.

    Mengapa mereka tidak mencantumkan keturunan Al Hasan dalam imam-imam mereka? Apa keturunan Al Hasan bukan keturunan ahlul bait? Jawabnya adalah karena Al Hasan berdamai dengan Muawiyah dan menyatukan kaum muslimin saat itu, sehingga tercelalah keturunannya dan tidak layaklah mereka menjadi imam mereka, itulah hakikat tabiat sejati seorang penghianat yang tidak pernah menginginkan perdaimaian dan persatuan diantara kaum muslimin.

    Sikap Para Pengkhianat Syiah terhadap Husain bin Ali Radhiyallahu anhu

    Setelah wafatnya Muawiyah Radhiyallahu anhu pada 60 H yang sebelumnya beliau menunjuk Yazid untuk menjadi pemimpin yang niat beliau agar tidak terjadi lagi perpecahan diantara kaum muslimin dalam masalah kekuasaan. Maka berpalinglah para utusan ahli dari Iraq kepada Husain bin Ali Radhiyallahu anhu dengan penuh antusias dan simpati, Lalu mereka berkata kepada Husain,“Kami telah dipenjara hanya demi engkau, dan kami juga tidak mengikuti shalat jum’at bersama penguasa yang ada, sehingga datanglah Sang Imam (Al Mahdi) kepada kami“

    Di bawah tekanan mereka, terpaksa Husain memutuskan untuk mengirim anak pamannya, Muslim bin Aqil untuk mengetahui keadaan yang terjadi, maka keluarlah Muslim pada bulan Syawal tahun 60 H.

    Ia tidak mengetahui telah tibanya penduduk Iraq sehingga mereka datang kepadanya, maka mulailah mereka berbaiat kepada Husain. Disebutkan, bahwa jumlah mereka yang berbaiat sebanyak dua belas ribu orang, kemudian penduduk Kufah pun mengirim utusan utnuk membaiat Husain dan semuanya berjalan dengan baik.

    Tetapi sayang, Husain radhiyallahu anhu tertipu oleh penghianatan mereka. Husain pergi menemui mereka walaupun sudah diperingatkan oleh para sahabat Nabi dan orang-orang yang terdekat dengan beliau agar tidak keluar menemui mereka, hal itu karena mereka telah mengetahui penghianatan yang selama ini telah dilakukan oleh kaum Syiah Iraq. Sampai-sampai Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu berkata kepada Husain , “Apakah engkau akan pergi ke kaum (golongan) yang telah membunuh pemimpin mereka, merampas negeri mereka, dan memusnahkan musuh mereka, walaupun mereka telah melakukan hal itu, apakah kamu tetap pergi kepada mereka? Mereka mengajakmu kesana, sedang penguasa mereka bersikap tiran terhadap mereka, apa yang mereka lakukan hanya untuk negara mereka saja, mereka hanya mengajak anda menuju medan perang dan pembantaian, dan anda tidak akan aman bersama mereka, mereka akan mengkhianati, menipu, membangkang, meninggalkan, dan berbalik memerangi kamu dan nanti mereka menjadi orang yang sangat keras permusuhannya kepadamu..“

    Begitu juga Muhammad bin Ali bin Abi Thalib yang populer dengan gelar Ibnu al-Hanif, sudah menasehatkan kepada saudaranya al-Husein radhiyallahu ‘anhum seraya mengatakan: “Wahai saudaraku, penduduk Kufah sudah Anda ketahui betapa pengkhianatan mereka terhadap bapakmu Ali radhiyallahu ‘anhu dan saudaramu al-Hasan radhiyallahu ‘anhu. Saya khawatir nanti keadaanmu akan sama seperti keadaan mereka sebelumnya!”

    Dengan jelas tampaklah pengkhianatan Syiah ahli Kufah, walaupun mereka sendiri yang telah mengharapkan akan kedatangan Husain, hal itu sebelum Husain sampai kepada mereka. Maka penguasa Bani Umayyah, Ubaidillah bin Ziyad ketika mengetahui sepak terjang Muslim bin Aqil yang telah membaiat Husain dan sekarang berada di Kufah, ia segera mendatangi Muslim dan langsung membunuhnya, sekaligus terbunuh pula tuan rumah yang menjamunya Hani bin Urwah Al Muradi. Dan kaum Syiah Kufah tidak akan memberikan bantuan apa-apa, bahkan mereka mengingkari janji mereka terhadap Husain Radhiyallahu anhu, hal itu mereka lakukan karena Ubaidillah bin Ziyad memberikan sejumlah uang kepada mereka.

    Ketika Husain Radhiyallahu anhu keluar bersama keluarga dan beberapa orang pengikutnya yang berjumlah sekita 70 orang laki-laki dan langkah itu ditempuh setelah adanya perjanjian-perjanjian dan kesepakatan, kemudian masuklah Ibnu Ziyad untuk menghancurkannya di medan peperangan, Maka terbunuhlah Al Husain Radhiyallahu anhu dan terbunuh pula semua sahabatnya termasuk ketiga saudara dari Husain sendiri Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib, Umar bin Ali bin Abi Thalib, dan Ustman bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum , ketiga anak Ali bin Abi Thalib selain Hasan, Husain dan Muhammad Ibn Hanafiyyah radhiyallahu ‘anhum.

    Ketika Husain Radhiyallahu anhu keluar bersama keluarga dan beberapa orang pengikutnya yang berjumlah sekitar 70 orang laki-laki, dan langkah itu ditempuh setelah adanya pernjanjian-perjanjian dan kesepakatan, kemudian masuklah Ibnu Ziyad untuk menghancurkannya di medan peperangan, maka terbunuhlah Al Husain Radhiyallahu anhu dan terbunuh pula semua sahabatnya. Ucapannya yang terakhir sebelum wafat adalah “Ya Allah berikanlah putusan di antara kami dan diantara orang-orang yang mengajak kami untuk menolong kamu namun ternyata mereka membunuh kami“.

    Bahkan doanya atas mereka (syiah) sangat terkenal, beliau mengatakan sebelum wafatnya, “Ya Allah, apabila Engkau memberi mereka kenikmatan, maka cerai beraikanlah mereka, jadikanlah mereka menempuh jalan yang berbeda-beda, dan janganlah restui pemimpin mereka selamanya, karena mereka telah mengundang kami untuk menolong kami, namun ternyata kemudian memusuhi kami dan membunuh kami“.
    Maka terungkap jelaslah kelakuan para penghianat yang menjadikan tameng dan mereka bertopeng dibalik ungkapan kecintaan mereka kepada Ahlul bait yang mereka jadikan kecintaan tersebut sebagai alasan memusuhi setiap orang yang mereka benci, padahal sungguh merekalah penghianat sesungguhnya yang menyimpan kebencian dendam kepada Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam beserta Ahlul Bait dan para sahabatnya. Yang selama ini mereka putarbalikkan sejarah dengan riwayat-riwayat palsu mereka yang itu memang tabiat dan ajaran agama mereka sesungguhnya dengan Taqiyyah (kedustaan) yang selalu mereka lakukan.

    Maka wajib bagi kita mengambil ibroh dan pelajaran dari sejarah ini, penghianatan yang berulang-ulang mereka lakukan kepada orang-orang yang dikatakan mereka cintai (ahlul bait) mereka berkhianat, apalagi kepada kaum muslimin secara umum, ditipunya Syaikh Syaltut (tokoh lembaga darut taqrib: lembaga pendekatan sunni-syiah) oleh mereka, digantungnya Syaikh Ahmad Mufti Zaddah tahun 1993 (tokoh lembaga darut taqrib dari kalangan ahlussunnah di iran). Sudah cukup menjadi bukti pengkhianatan adalah tabiat dan kelakuan mereka yang sudah mendarah daging dan patut kita waspadai.

    “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka”Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. (Q.S. Al-An’am: 159)

    Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya radiyallahu anhum ajmain dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman.

    Ya Allah, tunjukkanlah kebenaran itu sebagai kebenaran dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya, serta tunjukkanlah kebatilan itu sebagai sebuah kebatilan, dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.

    Maha Suci Engkau Ya Allah, dan dengan memuji-Mu, saya bersaksi bahwa tiada
    Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, saya memohon ampun dan
    bertaubat kepada-Mu.

    Wallahu A’lam

    1.Tidak semua pendukung Ali bin Abi Thalib fanatik, yang dimaksudkan disini adalah para pengikut Abdullah bin saba ((yahudi yg pura-pura masuk Islam) yang memang mengkultuskan Ali bin Abi Thalib bahkan sampai menuhankannya

    2.Tarikh Ath Thabari : Tarikh Al Umam wa Al Muluk, 5/89-90. Ibnul Atsir, Al kamil fi at Tarikh, 3/349.

    3.Tarikh Ath Thabari, 5/90. Al Alam Al Islami fi ashri Al Umawi hal 91.

    4. Mirip seperti kelakuan Syiah rafidhoh (faksi hizbullah) di masa ini yg katanya ingin membela palestina namun hanya bertahan di libanon saja mempertahankan wilayahnya.

    5.Tarikh Ath Thabari 5/135. Al Alam Al Islami Fi Ashri Al Umawi hal 96.

    6.Mukhtar bin Abi Ubaid Ats Tsaqafi inilah yang menentang Daulah Umawiyah dan mengaku sebagai pengikut Ahlul Bait serta menuntut kematian Al Husain.Itu semua tidak lain hanyalah topeng dan kedok untuk bersembunyi dari kerakusannya terhadap kekuasaan.

    7.Tarikh Ath Thabari, 5/195. Al Alam Al Islami fi Ashri Al Umawi. Hal 101.

    8. Yazid menurut ulama dan Imam-imam kaum muslimin adalah raja dari raja-raja islam Mereka tidak mencintainya seperti mencintai orang-orang shalih dan wali-wali Allah dan tidak pula melaknatnya. Karena sesungguhnya mereka tidak suka melaknat seorang muslim secara khusus (ta yin). Di samping itu kalaupun dia sebagai orang yang fasiq atau dhalim, Allah masih mungkin mengampuni orang fasiq dan dhalim. Lebih-lebih lagi kalau dia memiliki kebaikan-kebaikan yang besar.Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya dari Ummu Harran binti Malhan radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Tentara pertama yang memerangi Konstantiniyyah akan diampuni. (HR. Bukhari) Padahal tentara pertama yang memeranginya adalah di bawah pimpinan Yazid bin Mu’awiyyah dan pada waktu itu Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bersamanya

    9. Al-Luhuuf; oleh Ibn Thawus; hal. 39. Asyuura’; oleh al-Ihsa-i; hal. 115. Al-Majaalisu al-Faakhirah; oleh Abdu al-Hu-sein; hal. 75. Muntaha al-Amaal; (1/454). Alaa Khathi al-Hu-sain hal.96.110) Al-Majaalisu al-Faakhirah; hal.79. ‘Alaa Khathi al-Husain; hal 100. Lawaa’iju al-Asyjaan; oleh al-Amin; hal. 60. Ma’aalimu al-Madrasatain (3/62).

    10. Tarikh Ath Thabari, 5/389

    11. Al Irsyad, hal 241. I’lam Al Wara li Ath Thibrisi, hal 949. (doa Husein Radhiyallahu anhu ini terjawab syiah sampai saat ini berpecah belah sedemikian rupa setiap kewafatan imam mereka, mereka berpecah belah satu dan lainnya, dan diantara mereka saling kafir mengkafirkan satu dengan lainnya).

  2. Salam,
    Kepada ibnu Thabrani yang baik…

    Saya tidak mengerti apakah Anda setuju atau tidak dengan tulisan yang Anda postingkan atau tidak?
    Bila tidak setuju, maka tidak ada masalah.
    Bila Anda setuju, maka ada beberapa poin yang perlu saya jelaskan kepada Anda.

    1. Makalah itu menjelaskan tentang sahabat atau pengikut Ahlul Bait yang berkhianat. Dan di dunia ini itu adalah hal yang lumrah. Dengan demikian, mengapa Anda tidak berusaha mencari informasi tentang pengikut Ahlul Bait (Syi’ah) yang tidak berkhianat?

    2. Makalah itu menyebutkan tentang Syi’ah yang ghuluw. Dan dalam sejarah memang ada. Dan itu tidak benar. Karena dengan menyebutkan ada Syi’ah ghuluw, maka ada juga yang disebut Syi’ah tidak ghuluw. Mengapa Syi’ah ghuluw yang terus ditonjolkan, bukannya Syi’ah yang tidak ghuluw? Suatu sikap yang muncul bukan dari sikap ilmiah dan obyektif. Syi’ah 12 Imam yang ada saat ini juga menentang cara pandang yang berlebihan terhadap para Imam mereka.

    3. Mengenai terbunuhnya Imam Ali as, itu karena kebodohan Khawarij. Sebuah sikap ekstrim dalam beragama yang muncul dari kepicikan. Sementara Islam Muawiyah, adalah sebuah sikap ekstrim yang lain yang muncul akibat acuh tak acuh terhadap agama. Tolong Anda baca sejarah lebih jauh.

    4. Pembunuhan Imam Hasan as oleh istrinya akibat diperintah oleh Muawiyah. Mungkin Anda akan terkaget-kaget mendengar ini. Tapi coba merujuk lagi kepada buku-buku sejarah.

    5. Pembunuhan Imam Husein as sekalipun dilakukan oleh sebagian orang-orang pecinta Ahlu Bait, tapi jangan lupa bahwa itu semua atas perintah Yazid bin Muawiyah. Tanpa ada perintah itu, tidak mungkin mereka melakukan pembatanian bersejarah itu. Yazid, seorang penguasa berkedok Khalifah Rasulullah yang sering bermabok-mabokan itulah yang memerintah untuk membunuh Imam Husein as. Semestinya Anda dapat menyadari hal ini.

    6. Dan terakhir, peperangan di zaman Imam Ali as, menunjukkan bahwa tidak semua sahabat itu adil. Ada yang memang melanggar aturan-aturan ilahi.

    Rasulullah saw bersabda: “Ali senantiasa benar dan kebenaran bersamanya”

    Wassalam

    Saleh Lapadi

  3. Abdul Rahman Riza said

    Mas Saleh Lapandi…

    Pak Sabil (Sabil arRasyad) itu kan kalo e-forum sama saya suka skak mat trus ngacir… Dia stress menerangkan hadits ini… he he he

    http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/bukhari/053.sbt.html#004.053.336

    Volume 4, Book 53, Number 336:

    Narrated ‘Abdullah:
    The Prophet stood up and delivered a sermon, and pointing to ‘Aisha’s house (i.e. eastwards), he said thrice, “Affliction (will appear from) here,” and, “from where the side of the Satan’s head comes out (i.e. from the East).”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: