Blog Saleh dan Emi

Ngumpulin tulisan yang berserakan

Syi’ah Ahmadi Nejad

Posted by Saleh Lapadi pada Februari 4, 2007

Syi’ah Ahmadi Nejad 

Oleh: Saleh Lapadi 

Lawatan presiden Iran ahmadi Nejad ke negara-negara Amerika Latin memberikan banyak hasil. Baik itu berkaitan dengan hubungan diplomatik yang semakin mesra maupun penandatanganan perjanjian kerja sama yang menghasilkan keuntungan bilateral. 

Kali ini saya ingin menceritakan salah satu kejadian menarik yang mungkin masih ada hubungannya dengan diskusi kita dahulu. Terutama berkaitan dengan masalah DAdAf (Dahulukan Akhlak di Atas Fiqih). Ketika melihat tayangan televisi Iran yang menyoroti safari Ahmadi Nejad di Managua ibu kota Nikaragua, saya tiba-tiba teringat contoh yang diberikan oleh Kang Andri (salah seorang member di milist islamalternatif). Contoh itu tentang berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. 

Tepat masuk waktu salat, Ahmadi Nejad bersama rombongan melaksanakan salat berjamaah dengan orang-orang muslim di sana. Kameraman dengan cerdik menyoroti Ahmadi Nejad yang salat dengan gaya Syi’ahnya. Ada seorang yang diambil gambarnya sederetan dengan Ahmadi Nejad melakukan salat dengan bersedekap. Sebuah tayangan yang menenangkan hati. 

Namun, itu bukan fokus saya. Yang paling membuat saya tertarik ketika selesai melaksanakan salat, Ahmadi Nejad beserta rombongan keluar dari masjid. Di luar Ahmadi Nejad telah ditunggu oleh masyarakat yang mengelu-elukan dia. Ada seorang yang sempat lepas dari kawalan menyalaminya. Ahmadi Nejad mengulurkan tangannya sambil menarik orang tersebut kepelukannya. Gaya khas beliau. Mereka yang berada di luar pagar mengulurkan tangannya hanya sekadar dapat menjabat tangan presiden Iran. Sementara di hadapannya sekelompok ibu- ibu yang juga tidak ingin ketinggalan ingin menjabat tangan presiden kharismatik dan sederhana itu. 

Seorang wanita dari barisan kedua agak merangsek ke depan sambil menjulurkan tangannya dengan harapan dijabat oleh Ahmadi Nejad. Sang presiden tidak mengulurkan tangannya seperti yang dilakukannya terhadap kerumunan laki-laki. Sikap beliau sama seperti yang ditunjukkannya kepada seorang ibu yang berada di hadapannya. Ahmadi Nejad tidak mengulurkan tangannya, melainkan merapatkan kedua telapak tangannya menunjukkan orang yang tengah sungkem. Ketika itu dilakukannya untuk ibu yang merangsek tadi dan juga kepada ibu-ibu yang lain, mereka menerimanya. Tidak hanya menerima sikap orang nomor satu di Iran ini, mereka malah tambah mengelu-elukannya. Saya sempat berpikir bahwa mereka akan menampakkan sikap kecewa, tapi itu hanya khayalan saya belaka. Sebagian lain dari belakang maju hanya untuk mendapat sungkeman Ahmadi Nejad dan senyuman khasnya. 

Ternyata, Ahmadi Nejad sekalipun membawa nama Iran dalam lawatannya ini, tidak khawatir namanya akan buruk di tengah-tengah masyrakat Nikaragua. Atau setidak-tidaknya khawatir agar hubungan kedua negara tidak ada kerikil yang mengganjal, toh apa salahnya ia mengulurkan tangannya menjabat erat tangan wanita-wanita. Bukankah ketika menjabat juga tidak disertai dengan keinginan yang bukan-bukan? Media Barat tentu bakal menganggap ini sebagai obyek bagus untuk menunjukkan sisi lain pribadi Ahmadi Nejad.  

Apa yang membuat Ahmadi Nejad tetap melakukan hal itu dibawah sorotan kameraman? Tidak lain untuk menjaga ajaran agamanya. Ia lebih memilih fiqih dari pada mendahulukan akhlak, kira-kira begitulah bila kita coba menyederhanakan masalahnya. Namun, apakah sesungguhnya demikian? Ini cara pandang yang mencoba menyederhanakan masalah. Penyederhanaan masalah yang muncul dari cara pandang yang terpisah-pisah. Ketidakmampuan melihat masalah secara holistik selalu membuat kita terperangkap membandingkan sesuatu yang tidak ada gunanya, bahkan sering menggelincirkan kita pada kesalahan. Bila sejak awal kita menganggap ada dikotomi antara akhlak dan fiqih, niscaya cara pandang kita akan melihat keduanya seperti di atas. 

Masalahnya bukan Ahmadi Nejad ingin mendahulukan fiqih di atas akhlak, apalagi ingin mengklaim bahwa Ahmadi Nejad belum membaca buku DAdAF, tapi masalahnya pemahaman kita terhadap akar permasalahan perlu diperbaiki. Dan ini harus berangkat dari pemahaman kita atas hubungan fiqih dan akhlak. Hubungan keduanya adalah dialektik dan saling menyempurnakan. Fiqih tidak mutlak alat bagi akhlak begitu juga akhlak tidak mutlak tujuan fiqih. Hubungan keduanya saling mengiris. Irisan keduanya dapat ditemukan dalam bahasan fiqih ibadah. Di sana ada niat dan keikhlasan yang sangat menentukan diterimanya amal seorang muslim. Pada masalah fiqih muamalah, di sana tidak disyaratkan niat dan ikhlas. Sekalipun dengan riya’ jual beli seseorang yang telah memenuhi syarat-syarat dianggap sah. Sementara pada masalah kajian akhlak lainnya tidak disyaratkan perilaku dan perbuatan dari seorang mukallaf. Ini bila ditinjau dari hubungan antara akhlak Islam dan fiqih Islam. 

Bila kita mengandaikan hubungan fiqih dan akhlak dari sisi lain. Di mana akhlak yang dimaksud adalah nilai-nilai universal. Permasalahannya, akal hanya mengetahui hal-hal yang universal. Ketika kita berbicara mengenai kasus, di sini akal tidak mampu untuk menentukan sikap. Apakah ia harus berjabat tangan dengan seorang wanita yang bukan muhrim atau tidak. Katakanlah kita menerima bahwa akal juga dapat mengetahui masalah-masalah yang parsial. Kita akan tertumbuk dengan masalah yang lebih berat lagi. Lalu apa fungsi wahyu? 

Wahyu diturunkan untuk menjelaskan hal-hal parsial yang tidak dapat dicerna oleh akal. Bila wahyu juga terkadang berbicara tentang hal-hal universal itu bukan ingin campur tangan dalam wilayah akal, tapi ingin menunjukkan. Banyak hal yang telah diketahui oleh manusia dengan akalnya, namun pada banyak kesempatan ia melupakannya. Itulah dalam fiqih dikenal ada perintah petunjuk (Amr Irsyadi). Seperti petunjuk untuk menaati Allah, berbuat baik, menebarkan kasih sayang dan lain-lain. Berbuat baik dipahami oleh akal, namun perintah Allah agar manusia berbuat baik tidak ingin menafikan kemampuan akal untuk memahami itu. Perintah Allah sebagai petunjuk dan untuk menegaskan pentingnya hal itu. 

Ahmadi Nejad ingin menunjukkan bahwa dalam masalah ini, bentuk akhlak yang harus diikuti adalah dengan tidak berjabat tangan sesuai dengan petunjuk wahyu yang kemudian disederhanakan oleh ulama dengan fatwa. Karena bila ia harus mengikuti semua adat dan gaya setiap masyarakat yang dikunjunginya, tidak akan pernah berhenti. Setiap masyarakat punya tata cara dalam membangun hubungan bermasyarakat. Lalu mana yang harus diikuti? Harus ada pemutus untuk masalah ini. Bila setiap masyarakat menghormati adat istiadatnya dan menjadikannya sebagai undang-undang tidak tertulis. Islam menjadikan wahyu sebagai undang- undang tertulisnya untuk menata interaksi seseorang dengan Tuhannya, seseorang dengan lainnya, dengan masyarakat, dengan negara bahkan dengan alam. 

Ahmadi Nejad kelihatannya ingin menuntaskan wacana yang berlarut-larut dan hanya menghabiskan energi. Menjabat tangan seorang wanita yang bukan muhrim atau tidak melakukannya dengan resiko mengecewakannya? Ahmadi Nejad tidak menjabat tangan wanita yang bukan muhrim dengan tidak mengecewakannya. Hal itu dapat terjadi bila itu dilakukan dengan sepenuh hati dan tidak dibuat-buat. Sikap sungkem yang ditunjukkannya disertai senyumannya yang muncul dari hati yang dalam dengan pandangannya yang tulus tidak akan membuat orang kecewa. 

Qom, 16 Januari 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: