Blog Saleh dan Emi

Ngumpulin tulisan yang berserakan

Pahlawan Arab dan Islam:Sayyid Hasan Nasrullah atau Saddam?

Posted by Saleh Lapadi pada Februari 4, 2007

Pahlawan Arab dan Islam: Sayyid Hasan Nasrullah atau Saddam? 

Saleh Lapadi 

Siapa yang memecah belah Syi’ah dan Sunni tidak tergolong dari keduanya. 

Kaum muslimin hendaknya semakin waspada. (Imam Khomeini) 

Dunia Islam dan Arab baru saja merayakan kemenangan Hizbullah yang dipimpin oleh Sayyid Hasan Nasrullah. Dalam perang 33 hari Hizbullah mampu menghadapi Israel yang dibantu oleh Amerika dan sebagian negara-negara Eropa. Kemenangan itu membuat Sayyid Hasan Nasrullah menjadi terkenal di seluruh dunia. Olmert sendiri harus terpaksa mengakui bahwa orang paling berani di tahun 2006 adalah Sayyid Hasan Nasrullah.  

Tiba-tiba dunia dikejutkan dengan keputusan hukuman mati Saddam Husein. Banyak yang pro dan kontra dengan penggantungan Saddam. Libia secara resmi melakukan acara berkabung selama tiga hari dan membandingkan Saddam Husein dengan Umar Mukhtar yang mati di tiang gantungan. Husein Mubarak presiden Mesir dalam wawancaranya dengan salah satu media Israel mengatakan: “Tidak seorang pun yang akan melupakan cara penggantungan Saddam. Mereka telah mensyahidkannya”. New York Times melaporkan, di Yordania diadakan upacara berkabung yang diikuti secara besar-besaran yang diikuti oleh sekitar 14 partai oposisi. Partai oposisi yang sebenarnya bentukan kerajaan Yordania sendiri. Hasan Fattah salah satu kolumnis New York Times melaporkan bahwa sepekan setelah hukuman mati Saddam, terjadi perang antar kelompok-kelompok yang ada di Irak. Sementara al-Maliki sendiri membantah itu dengan pernyataanya bahwa setelah hukuman mati Saddam, Irak lebih tenang dari hari-hari sebelumnya. Ali Nafi, wakil presiden Sudan, menyatakan bahwa: “Saddam Husein mencintai Irak dan rakyat Irak”. Salah satu perwakilan Al-Jazirah di Mesir pergi ke salah satu kota kecil bernama Ezzat Saddam (kemuliaan Saddam). Di sana dia mengadakan upacara berkabung. Gambar yang ditampilkan diusahakan sedemikian rupa bahwa yang ikut dalam prosesi itu adalah masyarakat Mesir. Sebagian lain memadankan Saddam dengan al-Hallaj sang tokoh sufi. Bahkan ada juga yang menyerunya dengan sebutan “Ya Ahlat Takwa wal Maghfirah!” Dan banyak ungkapan lain yang memuji Saddam. 

Sebulan sebelum Saddam dijatuhi hukuman mati, semua dunia, tidak terkecuali dunia Arab, menganggap Saddam sebagai pembunuh berdarah dingin. Tangannya dilumuri dengan darah orang-orang Syi’ah, Sunni dan Kurdi di Irak. Ia juga dikenal sebagai agresor yang menyerang Iran dan Kuwait. Tanpa belas kasihan rakyat Irak sendiri dibunuh dengan senjata kimia, apalagi yang dilakukannya terhadap rakyat Iran dalam peperangan delapan tahun. Betapa banyak ulama Islam Sunni dan Syi’ah yang dibunuh olehnya. Syahid Muhammad Baqir Shadr ulama paling terkemuka Syi’ah dan menjadi tokoh cendekiawan dunia Islam dibunuh beserta adik perempuannya.  

Ketika Saddam mengagresi Kuwait, Abdullah bin Baz mengeluarkan fatwa agar semua negara-negara Arab untuk berjihad menghadapi Saddam. Bin Baz tidak lupa mengatakan bahwa Saddam seorang atheis dan kafir yang zalim. Seandainya dia mengaku muslim pun Saddam harus diperangi hingga ia mengembalikan hak-hak kaum muslim. Apa lagi jelas ia seorang atheis. Bin Baz menambahkan: “Tidak ada taubat bagi seorang zalim sehingga ia mengembalikan hak yang dirampasnya. Saat ini terbalik Saddam yang kemarin atheis, kafir dan zalim telah menjadi seorang “syahid”. 

Semua ini berubah setelah Saddam digantung. Alasannya karena dia digantung di hari Idul Qurban. Padahal semua tahu bahwa peradilan di bawah bentukan dan tekanan Amerika. Sejam sebelum digantung, Saddam masih di tangan Amerika. Pada akhir prosesi penggantungan Saddam, ada helikopter di atas yang menanti jasadnya untuk langsung diterbangkan ke Tikrit kota kelahirannya. Ini menunjukkan bahwa pelaksanaan hukuman mati itu pemerintah Irak dalam tekanan Amerika. 

Tempat penggantungan Saddam memang sengaja dipilih tempat digantungnya Syahid Muhammad Baqir Shadr. Sehingga ketika rekaman itu ada suara-suara yang menyebutkan kata Baqir Shadr. Masih jelas dalam ingatan bagaimana ketika Syahid Shadr diseret menghadap Saddam listrik seluruh kota dipadamkan. Dengan wajah berlumuran darah Syahid Shadr dibawa menghadap Saddam. Ketika sudah berhadapan, Saddam bertanya: “Siapakah Anda?” Syahid Shadr menjawab: “Shadr” Saddam lantas bergumam: “Rajulun”. Sebuah ungkapan pada seorang tokoh kharismatik. Tokoh yang membuatnya takut akan keruntuhan tahtanya. Pada waktu itu juga, pihak keamanan menyiapkan penggilingan. Itu disiapkan bagi mereka yang melakukan protes atas pembunuhan Syahid Shadr.  

Sebagian suara rekaman terdengar yel-yel untuk Muqtada Shadr yang ayahnya juga dibunuh di tempat yang sama. Harian ar-Riyadh memanfaatkan rekaman itu dengan mengatakan bahwa Muqtadha Shadr ada di lokasi penggantungan Saddam. Bahkan tidak cukup itu saja, Sayyid Aziz al-Hakim pun dituduh hadir pada acara itu.  

Lebih dari itu, dalam prosesi itu ketika kamera mengarah ke tempat lain terdengar suara syahadat walaupun tidak keras. Orang-orang menyangka yang mengucapkan itu adalah Saddam Husein, padahal belum terbukti. Karena suara tersebut tidak disertai dengan gambar ucapan yang keluar dari bibir Saddam. Hamas juga diberitakan tidak setuju dengan hukuman mati Saddam Husein, namun segera Ismail Haniah memberikan klarifikasi bahwa kabar itu tidak benar.  

Semua skenario ini dibuat sedemikian rupa untuk membuat pahlawan baru menandingi popularitas Sayyid Hasan Nasrullah. Barat tidak senang dengan prestasi yang diraih oleh Hizbullah dengan tokoh sentralnya Sayyid Hasan Nasrullah. Kecintaan akan Sayyid Hasan Nasrullah akan menjadi ancaman terhadap eksistensi Israel. Usaha Olmert yang mengakui secara langsung bahwa Israel memiliki senjata nuklir adalah upaya untuk mengembalikan citra kekuatan tak terkalahkan Israel. Inggris juga berusaha sedemikian rupa untuk mendongkrak kembali image bahwa Israel masih merupakan kekuatan tak tertandingi di kawasan, namun tidak berhasil.  

Saddam sekuel baru, pasca hukuman mati, dimunculkan sebagai hero. Seorang hero yang oleh perawatnya Robert Elyas digambarkan sebagai seorang paling humanis dan agamis. Disebutkan bagaimana ia tidak bicara bila tidak perlu, tidak pernah marah dan mencaci siapapun, murah senyum, tidak pendendam (karena tidak pernah menyebutkan nama musuhnya), memberi makan burung dari sisa rotinya dan lain-lain. Di sisi lain Saddam juga melakukan salat lima waktunya dengan teratur, membaca al-Quran  dan tidak lupa berpuasa di bulan Ramadhan. Tentu saja kondisi ini membuat dia harus mengomentari hukuman mati Saddam seperti ini: “Ini pengalaman hidup yang menyakitkan dan menyedihkan”. Namun, hero aspal ini, memiliki latar belakang hitam dan kelam. Ia menghabisi semua lawan-lawan politiknya dengan kejam bahkan anaknya sendiri.  

Malam sebelum dieksekusi, badan Saddam bergetar ketakutan menghadapi kematiannya keesokan hari. Saddam tidak mampu mengontrol dirinya. Akhirnya dipanggil seorang dokter yang kemudian menyuntikkan obat penenang kepada Saddam. Setelah tenang, ia berbicara dengan Jenderal yang mendampinginya. Saddam memohon agar dapat berbicara dengan pejabat-pejabat Amerika. Ia berjanji akan menghancurkan Iran. Melihat sikap Saddam, Jenderal yang tidak ingin namanya disebut sangat tersentuh. Ia ingin membantu Saddam tapi tidak punya pilihan lain. 

Ahmad Abu Mathar, penulis buku “Rakyat Palestina dalam sekapan Saddam” (Felesthiniyyun fi Sujuni Saddam), membeberkan fakta-fakta bagaimana dengan kejam Saddam memanfaatkan isu-isu Palestina untuk kepentingannya. Sulit membayangkan ada orang yang masih saja mengambil untung dari penderitaan rakyat Palestina. Abu Mathar menulis, ketika Saddam mengagresi Kuwait ia menamakan pasukannya dengan sebutan Al-Quds. Saat ia menyerang Iran dengan alasan untuk membentengi pintu gerbang timur negara-negara Arab. Abu Nidal yang hanya pernah membunuh Isham Sarthawi tokoh Palestina dilindungi oleh Saddam. Sarthawi diteror ketika  menghadiri pertemuan di Aljazair. Ia diteror di sana atas perintah Saddam. Itu dilakukannya sebagai sinyal kepada Amerika bahwa ia siap menyerang Iran. Untuk menghadapi PLO Saddam mendirikan kelompok Pembebasan Arab (At-Tahrir Al-Arabiyah). Hasilnya adalah pembunuhan dan teror tokoh-tokoh Palestina.  

Bandingkan itu semua dengan Sayyid Hasan Nasrullah!  

Satu-satunya kesalahan Sayyid Hasan Nasrullah karena ia bermazhab Syi’ah. Syi’ah yang, setelah kemenangan revolusi Iran, menjadi sumber inspirasi kesadaran kaum muslimin di seluruh dunia menghadapi hegemoni Barat. Hal itulah yang membuat negara-negara Arab tidak mensuportnya dalam perang 33 hari menghadapi Israel. Bahkan lebih dari itu, ulama Wahhabi mengatakan bahwa perang yang dilakukan oleh Hizbullah tidak diakui sebagai jihad atas nama agama.  

Saddam sekuel baru tidak hanya untuk menandingi popularitas Sayyid Hasan Nasrullah, tapi juga ikut andil bagi terbentuknya sebuah koalisi baru. Koalisi yang diciptakan oleh Israel, Amerika, inggris dan sebagian negara-negara Arab yang bergantung pada kekuatan Barat untuk menghadapi Syi’ah. Alasannya sederhana, karena hukuman mati dilakukan di hari Idul Qurban dan pemerintah yang Syi’ah. Negara-negara Arab digiring sedemikian rupa untuk melihat fenomena Syi’ah sebagai ancaman. Saddam dicitrakan sedemikian rupa sebagai korban pertama peperangan Sunni menghadapi Syi’ah. Hukuman mati Saddam merupakan upaya balas dendam mereka, selain Iran yang oleh Barat dicitrakan sedemikian rupa bakal membuat senjata nuklir dengan program damai nuklirnya. Syi’ah Iran dan Irak akan mengancam Ahli Sunah yang ada di negara-negara Arab. Padahal semua tahu, Saddam yang Sunni itulah yang sempat mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah dengan menyerang Iran yang Syi’ah dan Kuwait yang Sunni. Sebagian negara-negara Arab sedang berusaha keras untuk menunjukkan bahwa pilihan mereka kali ini dalam rangka menghadapi musuh Islam. Mereka lupa dan lalai bahwa sikap mereka yang lemah di hadapan Israel selama ini membuat simpati kaum muslimin terhadap mereka menjadi pudar.  

Masalah sebenarnya muncul setelah partai Demokrat berhasil menggeser pengaruh Republik di Kongres. Ide partai Demokrat adalah menarik pasukan Amerika dari Irak. Sebagaimana diberitakan oleh New York Times, setelah kemenangan itu Raja Abdullah menemui Dick Cheny untuk membicarakan masalah ini dan meminta agar Amerika tidak menarik pasukannya dari Irak. Bila itu dilakukan Arab Saudi mengkhawatirkan pengaruh Iran semakin kuat di Irak. Untuk menekan lebih jauh, Raja Abdullah mengancam bila penarikan dilakukan, maka bantuan keuangan kepada Ahli Sunah lebih besar dari yang sudah-sudah untuk menghadapi Syi’ah. Kekhawatiran ini bukan milik Arab Saudi saja, melainkan hampir seluruh negara-negara Arab. Mereka menganggap bila pasukan Amerika ditarik dari Irak, Syi’ah yang mayoritas akan membantai Sunni yang minoritas.  

Untuk lebih menarik perhatian Amerika atas usulannya, Arab Saudi menarik duta besarnya di Amerika Al-Faishal yang baru menjabat selama lima belas bulan. Dan itu menunjukkan bahwa dalam menyikapi Irak dan Iran terjadi tarik menarik yang cukup alot antara keluarga kerajan Arab Saudi. Ditambah lagi dengan pemberitaan Asosiated Press bahwa karisma Ahmadi Nejad telah menarik perhatian sebagian keluarga kerajaan. Sementara beberapa mufti yang ikut menandatangani surat kepada pemerintah untuk memberikan bantuan kepada Sunni Irak dan menyerang Syi’ah Irak, memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan. Mufti Arab Saudi dalam sebuah majelis mengucapkan bahwa Saddam menguntungkan kita karena dia membunuh orang-orang Syi’ah ketika menyerang Iran. Kesalahan Saddam hanya satu, mengagresi Kuwait! 

Untuk meredam perselisihan ini, menarik untuk menyimak penyataan Abdurrahman Rasyid, direktur jaringan satelit Al-Arabiyah. Ia berkata: “Kemungkinan terjadi perpecahan sangat besar sekali. Bila itu terjadi, besok siapa yang akan menghadapi Iran? Apakah Israel seorang diri? Ini tidak mungkin!”. 

Khalil Ad-Dakhil, dosen sosial politik Universitas Riyadh berkata: “Pejabat-pejabat Arab Saudi telah melakukan kesalahan besar dengan membeo pada Amerika tanpa memiliki rancangan sedikit pun. Bila mereka sendiri yang lebih cepat bergerak dan campur tangan membantu Ahli Sunah, dengan mudah mereka dapat menyelesaikan dilema yang ada tanpa ada pertumpahan darah”. 

Keberadaan Syi’ah di Irak memiliki akar sejarah yang panjang. Dan saat ini, pengaruh Syi’ah di Irak adalah sesuatu yang tidak dapat diingkari. Apa lagi dengan melihat konteks marjaiyat di Syi’ah. Kekuatan Syi’ah di Irak bertumpu pada Sayyid Ali Sistani yang nota bene masih memiliki warga negara Iran. Beliau sempat ditawari oleh pemerintah untuk mengganti kewaranegaraannya tapi menolak dengan halus. Ketika teror terhadap Syi’ah Irak meningkat, beliau dengan lantang mengeluarkan statemen bahwa seandainya setengah dari Syi’ah Irak dibunuh oleh saudaranya Sunni, kaum Syi’ah tidak akan melakukan tindakan balas dendam. Padahal, pada saat yang sama, ketika tentara Amerika memberondong jemaah salat di sebuah musala (Huseiniyah), pada malam harinya, milisi bersenjata Syi’ah melakukan patroli di kota Baghdad. Pasukan Amerika ketakutan dan mendekam di barak mereka. Mereka ketakutan pembalasan pasukan milisi Syi’ah. Selama beberapa jam, milisi Syi’ah menguasai kota hingga datang perintah dari Sayyid Ali Sistani agar mereka kembali karena sesuai dengan keputusan PBB penyelenggara keamanan adalah Amerika.  

Melihat kenyataan ini, ketimbang memusuhi Syi’ah Lebanon, Irak dan Iran semestinya Arab Saudi dan Wahhabi mengambil sikap kooperatif. Hal yang sama diadviskan oleh Vali. R. Nasr anak Profesor Husein Nasr kepada pemerintah Amerika yang dimuat dalam situs Forreign Affairs. Usaha berhadap-hadapan dan memusuhi Iran bukanlah pilihan yang benar. Untuk itu ia menawarkan Amerika untuk melakukan perundingan dengan Iran. Hal sama perlu dilakukan oleh Arab Saudi dan ulama Ahli Sunnah. Memusuhi Iran dan Syi’ah membuat kita lupa bagaimana dalam waktu sepuluh hari ini, pasukan Israel membantai rakyat tidak berdosa Palestina. 

Sikap kooperatif ulama Syi’ah terhadap saudaranya Sunni tidak cukup sampai di situ saja. Setelah peristiwa pemboman kuburan dua Imam Syi’ah di kota Kazhimain Sayyid Ali Khamane’i menyerukan kepada seluruh kaum muslimin untuk lebih waspada. Kaum muslimin diharapkan untuk melihat ini bukan masalah Sunni dan Syi’ah tapi ada skenario besar dibalik peristiwa itu. Pembomam itu merusak tempat suci Syi’ah tapi reaksi ulama Syi’ah bagaikan semilir angin sejuk yang menenangkan hati. Beliau malah mengeluarkan fatwa bahwa haram hukumnya seorang muslim melakukan tindakan yang memprovokasi munculnya perselisihan antara Sunni dan Syi’ah. Pendapat itu kemudian ditegaskan lagi sepuluh hari setelah peristiwa hukuman mati Saddam  yang bertepatan dengan hari Idul Ghadir, hari pengangkatan Imam Ali bin Abu Thalib sebagai pemimpin pasca Nabi. Sambil menyebutkan bahwa buku Al-Ghadir yang ditulis oleh Allamah Amini bisa menjadi perekat Sunni dan Syi’ah, kembali beliau menegaskan fatwanya. Meyakini dan tidak meyakini Ali bin Abi Thalib sebagai pewaris Nabi tidak lantas membuat Sunni dan Syi’ah berselisih apa lagi sampai menumpahkan darah keduanya. Akhirnya, mengulangi ucapan Imam Khomeini sangat membantu kita memahami kondisi kekinian. Siapa yang memecah belah Syi’ah dan Sunni tidak tergolong dari keduanya. Kaum muslimin hendaknya semakin waspada. 

Qom, 10 Januari 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: