Blog Saleh dan Emi

Ngumpulin tulisan yang berserakan

Mempertanyakan Kejujuran Yusuf Qardhawi Dalam Peristiwa Hukuman Mati Saddam

Posted by Saleh Lapadi pada Februari 4, 2007

Mempertanyakan Kejujuran Yusuf Qardhawi 

Dalam Peristiwa Hukuman Mati Saddam 

Saleh Lapadi 

Pada akhirnya Saddam Husein dihukum gantung. Hukuman yang kemudian menyisakan masalah. Orang-orang lalu menganalisa bakal terjadi pertikaian hebat antara Syi’ah dan Sunni. Media Barat dengan gencar memberitakan masalah ini. Tahun baru 2007 dimulai dengan perang antara Syi’ah dan Sunni. 

Pada tanggal 8 Januari bertepatan dengan tanggal 18 Dzul Hijjah, hari pengangkatan Imam Ali as. sebagai penerus Nabi, Ayatullah Sayyid Ali Khamane’i dalam pidatonya menyebutkan bahwa ada pihak lain yang coba mengail di air keruh. Disebarkan isu pertikaian Syi’ah dan Sunni agar mereka punya alasan untuk tinggal lebih lama di Irak. Hal itu terbukti beberapa waktu setelah itu, Bush mengirimkan pasukan sekitar 20.000 personel ke Irak di tengah protes kalangan Demokrat. 

Dalam pidatonya, Ayatullah Sayyid Ali Khamane’i kembali menyingkap rencana busuk Barat yang memanfaatkan isu penggantungan Saddam dengan membesar-besarkan bahaya Iran. Pers Barat berusaha menggambarkan Iran sebagai ancaman stabilitas kawasan Timur Tengah. Usaha Iran untuk memiliki teknologi nuklir untuk tenaga listrik disulap sedemikian rupa sebagai upaya untuk membuat senjata nuklir. Pada saat yang sama standar ganda diberlakukan ketika Olmert secara terbuka mengakui Israel memiliki senjata nuklir. 

Ayatullah Sayyid Ali Khamane’i membongkar rencana Barat yang tengah berusaha membentuk koalisi anti Iran. Koalisi yang beranggotakan Amerika, Inggris, Israel dan sebagian negara-negara Arab yang bergantung dengan Barat. Beliau meminta kepada semua ulama; Sunni dan Syi’ah untuk menyadari kondisi saat ini. Begitu juga beliau tidak lupa mengingatkan pemimpin- pemimpin negara Arab agar bertindak lebih bijak menghadapi isu ini. 

Tentunya hanya dengan saran dan nasihat tidak akan dapat merubah banyak kondisi yang ada di Irak khususnya dan di kawasan Timur Tengah pada umumnya. Oleh karena itu, ada dua sikap yang diambil oleh beliau: 

1. Memfatwakan bahwa sikap dan perbuatan yang menjurus pada perpecahan dan pertikaian antara Syi’ah dan Sunni adalah haram. Siapa saja yang menunjukkan sikap dan melakukan perbuatan yang mengakibatkan perpecahan dan pertikaian antara Sunni dan Syi’ah berarti telah melakukan perbuatan dosa. Fatwa beliau ini adalah yang kedua kalinya setelah menyampaikan fatwa yang sama ketika tempat suci Syi’ah di kazhimain diledakkan dengan bom. 

2. Mengutus Ali Larijani Sekretaris Jenderal Badan Keamanan Nasional Iran menemui Raja Abdullah untuk menyampaikan pesannya. Hal itu dilakukan ketika tiba-tiba terjadi kepadatan kunjungan diplomatik di kawasan Timur Tengah. Rice tiba-tiba datang mengunjungi pemimpin- pemimpin negara Arab yang dimulainya dengan mengunjungi Israel. Talebani melakukan kunjungan kenegaraan ke Syiria dan negara-negara Arab. Dengan demikian, diharapkan sebelum Rice melakukan pertemuan dengan Raja Abdullah, pesan Ayatullah Sayyid Ali Khamane’i telah sampai kepada beliau. Arab Saudi dianggap memiliki peran yang sangat penting dalam rangka menjaga stabilitas kawasan.Pernyataan dan sikap yang ditunjukkan oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamane’i sebagai pemimpin Syi’ah terbalik dengan ucapan Yusuf Qardhawi. Pada tanggal 5 Januari, Yusuf Qardhawi dalam khutbah Jumatnya menyebutkan: “Saya meminta kepada para marja Syi’ah untuk mengeluarkan perintah untuk menghentikan pembunuhan atas orang-orang Sunni. Karena bila mereka memerintahkan pasti ditaati. Saya berharap agar Sayyid Ali Khamane’i mau mengeluarkan perintah. Bila itu tidak dilakukannya bakal muncul komentar bahwa ada konspirasi di sana…” 

Ironisnya, isi khutbah Jumat ini kemudian secara vulgar dimasukkan sebagai potongan dari ceramah Yusuf Qardhawi ketika bertemu dengan tokoh-tokoh Indonesia di rumah dinas ketua MPR, Hidayat Nur Wahid. Media-media ini berusaha membawa pesan Barat itu ke Indonesia dengan cara yang tidak mencerminkan perilaku seorang muslim. Tampaknya semakin kuat keyakinan bahwa apa yang disampaikan oleh Imam Khomeini dahulu benar adanya. “Siapa yang memecah belah Syi’ah dan Sunni tidak tergolong dari keduanya (bukan muslim). Kaum muslimin hendaknya semakin waspada!” 

Berbeda dengan ketika menyampaikan ceramahnya di Qatar, selama di Indonesia, Yusuf Qardhawi senantiasa tidak lupa untuk memberi nasihat agar kaum muslimin menjaga persatuan. Ia menyebutkan: “Tidak mengapa kita berbeda kelompok, berbeda partai, berbeda organisasi, tapi kita semua harus menyadari bahwa kita adalah Muslim”. Tentunya, inkonsistensi sikap Yusuf Qardhawi menimbulkannya banyak pertanyaan.Hal ini sangat kontras sekali dengan sikap Ayatullah Sayyid Ali Khamane’i. Semenjak diasingkan oleh Syah ke provinsi Sistan Baluchestan, di sana melakukan dialog dengan tokoh Ahli Sunah dan mencapai kesepakatan untuk membicarakan secara serius masalah persatuan Islam. Mereka mengkaji prinsip-prinsip persatuan secara praktis, hakiki dan dapat diterima oleh hati yang bersih. Saat kemenangan revolusi membuat hubungan mereka sempat terputus, namun dilanjutkan setelah itu dengan lebih semangat.  

Pada tanggal 15 Januari kemarin, Ayatullah Sayyid Ali Khamane’i di sambangi oleh ulama Syi’ah dan Sunni yang mengikuti konferensi internasional tentang Ibnu Maitsam Bahrani. Seorang ulama abad ketujuh yang mensyarahi buku Nahjul Balaghah. Dalam pertemuan tersebut, beliau menggaris bawahi bahwa perbedaan adalah sesuatu yang alamiah. Terutama bila itu terjadi di kalangan ulama. Namun, perbedaan ini ketika sampai kepada arus bawah, orang-orang awam, terkadang menjadi panas. Ulama tidak boleh membiarkan kondisi ini berlarut-larut. Mereka harus segera memadamkan ketegangan ini. 

Ayatullah Sayyid Ali Khamane’i menambahkan: “Banyak faktor yang membuat munculnya perselisihan umat Islam. Salah memahami Islam termasuk faktor yang sangat mempertajam perbedaan ini. Satu faktor lagi yang tidak boleh dilupakan adalah kolonialisme. Ulama yang memperjuangkan Islam ketika berhadap-hadapan dengan faktor ini selalu menitikberatkan masalah persatuan Islam. Ini dapat disaksikan mulai dari Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh dan yang terakhir adalah Imam Khomeini. Inggris sebagai negara imperialis termasuk yang paling getol mempergunakan cara ini”. 

Isu-isu yang mempertentangkan antara Syi’ah dan Sunni semakin dipertajam semenjak kemenangan revolusi Islam Iran. Revolusi Islam Iran merupakan faktor penting dalam menyadarkan kaum muslimin akan dirinya sebagai muslim dan mengajak kaum muslimin untuk bersatu menghadapi imperialisme dan hegemoni Barat. Bisa disaksikan usaha-usaha imperialis untuk menebarkan pertikaian antara Syi’ah dan Sunni di Irak, Pakistan, Afghanistan dan lain-lain. Sekali lagi beliau menegaskan dan mengulangi ucapan Imam Khomeini bahwa mereka yang mengobarkan perpecahan antara Syi’ah dan Sunni bukan dari Syi’ah dan tidak juga dari Sunni. 

Negara-negara imperialis sengaja mengajak dunia Islam Sunni untuk melihat bahwa revolusi yang terjadi di Iran adalah revolusi Syi’ah dan bukan revolusi Islam. Kata beliau: “Bila revolusi Islam Iran tidak memberikan perhatian kepada dunia Islam, imperialis Barat tidak akan mempermasalahkan revolusi Iran. Saat ini Iran adalah pembela mati-matian hak-hak rakyat Palestina. Iran tidak pernah membedakan apakah yang dibela di Palestina itu adalah orang Sunni atau Syi’ah. Iran memberi dukungan moril dan dana yang tidak kecil terhadap perjuangan rakyat Palestina”. 

Ketika Uni Soviet dahulu menyerang Afghanistan, tidak ada satu pun dari negara-negara Islam yang menyerukan protes. Imam Khomeini dengan tegas menyerukan kepada Uni Soviet untuk mundur. Imam ketika menyampaikan pesannya kepada Uni Soviet tidak peduli mengenai Syi’ah atau Sunni. Republik Islam Iran membantu Lebanon dan ini membuat imperialis marah. Iran akan membantu kezaliman yang menimpa kaum muslimin di dunia tanpa memperdulikan apakah mereka Syi’ah atau Sunni.” 

Saat ini, kaum muslimin mulai sadar akan jati dirinya. Kesadaran ini mengancam kepentingan negara-negara imperialis. Dalam arus kesadaran kaum muslimin ini, ulama memegang peran yang sangat penting. Mereka punya tugas penting dalam menyadarkan masyarakat.  

Pada akhir ceramahnya, beliau mengingatkan bahwa kelompok takfir, kelompok yang suka mengafirkan kelompok lain sumbernya adalah kebodohan. 

Qom, 16 Januari 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: