Blog Saleh dan Emi

Ngumpulin tulisan yang berserakan

Ketika Kedudukan Menjadi Tujuan

Posted by Saleh Lapadi pada Februari 7, 2007

Ketika Kedudukan Menjadi Tujuan[1] 

Dalam sistem politik Islam, kedudukan, posisi dan jabatan hanya alat. Sementara tujuannya adalah pengaturan urusan masyarakat dan negara, pelayanan terhadap masyarakat, usaha sungguh-sungguh dan berkelanjutan, undang-undang yang dapat memberikan solusi bagi problem yang ada dan sebagai landasan bagi perkembangan baik dari sisi budaya, politik dan ekonomi. 

Sistem politik Islam menganggap posisi, jabatan dan kedudukan sebagai sebuah keniscayaan. Kedudukan dan jabatan membantu mempercepat, mengatur dan mengembangkan potensi yang ada. Di sini, pengertian kedudukan sebagai alat dalam rangka pemanfaatan yang sehat atas kekuasaan. 

Pemanfaatan yang demikian atas kedudukan dalam sistem politik Islam dapat terwujudkan dengan perubahan dan pendidikan etika politik dan etika manajemen dari dalam. Dengan ini diharapkan munculnya ketakwaan politik. 

Dalam sistem politik Islam, kedudukan tidak boleh menjadi tujuan. Semua penyimpangan dan kemunduran berangkat dari cara pandang yang salah terhadap kedudukan. Akhir dari kesalahan cara pandang ini adalah terjerembab di pelukan hawa nafsu yang akhirnya menguasai seseorang atau kelompok. Ketidakmampuan memahami masalah ini dengan benar, menciptakan kebingungan ketika terjadi kontradiksi antara kebenaran dan kebatilan. Antara kebenaran dan kepentingan diri atau kelompok. Pada gilirannya hal ini mengakibatkan terjadinya pertentangan dengan agama. Cukup mengherankan, bahwa permusuhan terhadap agama biasanya dimulai dengan alasan keinginan dan perjuangan atas nama agama. Semua dimulai atas nama agama dan dunia. 

Ketika kedudukan menjadi tujuan, semua instrumen yang dapat dipakai dapat dibenarkan. Ini merupakan semboyan semua sistem politik setan dari semua pemerintahan yang batil dari dahulu hingga sekarang. Semua sikap dan tindakan para penguasa yang memusuhi Islam menyesuaikan diri dengan konsep ini. 

Pada peristiwa Karbala, pertentangan antara hak dan batil, dapat temukan pribadi-pribadi yang sebelumnya memiliki reputasi baik, terpuruk dalam mengambil sikap. Mereka menjadikan kedudukan sebagai tujuan. Terjerembab dalam kitiran hawa nafsu. Akhirnya, mereka harus menghadapi pribadi agung seperti Imam Husein as sebagai musuh. Orang-orang yang akhirnya namanya tercatat dalam sejarah sebagai manusia-manusia pengkhianat. 

Umar bin Saad adalah salah satu contohnya. Dengan memilih kedudukan, ia membunuh kehidupannya. Umar bin Saad adalah anak dari Saad bin Waqqash, salah seorang panglima dan sahabat Nabi. Ia ikut bersama ayahnya dalam penaklukan Irak.[2] 

Umar bin Saad memiliki latar belakang yang cemerlang. Ayahnya adalah salah satu sahabat besar Nabi. Ia sendiri dikenal sebagai orang ahli ibadah dan zuhud. Masyarakat sangat mempercayainya. Sebelum ikut memerangi Imam Husein as, ia adalah seorang yang tidak punya permusuhan dengan Ahlul Bait. 

Kelemahan terbesar dari Umar bin Saad adalah kecintaannya akan kedudukan. Ia terlihat rapuh bila berhadapan dengan godaan kedudukan. Tidak ragu bahwa kelemahan yang dimilikinya lahir dari kurangnya pengetahuan dan pendidikan akhlak. Kekurangan ini membuat ia tidak mampu mencapai akhlak yang mulia dan kemantapan hati. Ia sama seperti orang-orang lain yang tidak memperhatikan usaha pencapaian kesempurnaan diri baik lewat studi-studi teoritis maupun praktis. Sehingga dengan itu, kelemahan-kelemahan yang selama ini dimiliki dapat dihilangkan dan diisi dengan akhlak mulia. Akhirnya, di hadapan kedudukan, ia sering lupa akan dirinya, kehilangan kontrol. Ia tidak mampu bertahan dari tawaran kedudukan dari penguasa Bani Umayah. 

Umar bin Saad menjadikan kedudukan sebagai tujuan dan akhirnya menjual agamanya. 

Sikap dan keputusan yang dipilihnya ini membuktikan bahwa ibadah dan zuhudnya juga baru pada tingkat permulaan yang belum memiliki landasan kokoh. Bila ibadah dan kezuhudan mengakar dalam pribadi seseorang, niscaya ia akan berubah dan sampai pada kebebasan maknawi dan akhlak mulia. Dengan ini, bukan hanya ia tidak dapat ditawan oleh kedudukan, ia dapat mengubah instrumen kedudukan ini untuk melayani tujuan. Bahkan lebih dari itu, ia tidak akan dapat dipengaruhi oleh hal-hal keduniaan. 

Ubaidillah bin Ziyad menawarkan kedudukan sebagai gubernur Rey. Setelah menerima tawaran itu, Umar bin Saad siap untuk bergerak menyongsong kedudukan yang diinginkannya. 

Ketika Imam Husein as sampai di Karbala, ternyata tawaran menjadi gubernur Rey punya konsekuensi. Ubaidillah memerintahkan ia untuk berhadap-hadapan dengan Imam Husein as. Ubaidillah berkata: “Segeralah pergi menemui Husein bin Ali! Bila pekerjaanmu telah selesai, engkau dapat pergi ke kota Rey”.  

Sesaat Umar bin Saad termenung dan berpikir. Ia tidak pernah membayangkan bila konsekuensi yang harus dibayar sedemikian mahalnya. Ia harus berhadapan dengan Husein dan harus membunuhnya. Ia tidak mampu untuk berperang dengan anak Fathimah Zahra as. Seorang yang memiliki kepribadian agung dan suci. Sesaat setelah berpikir, ia menghadap Ubaidillah dan tidak menerima tawaran itu. 

Ubaidillah menjawab penolakan itu: “Bila memang demikian keputusanmu, surat pengangkatanmu sebagai gubernur Rey harus engkau kembalikan!”[3] 

Untuk ke sekian kalinya Umar tertunduk dan berpikir. Ia tidak ingin melepaskan kesempatan emas menjadi gubernur Rey begitu saja. Pada saat yang sama ia juga tidak ingin berperang dengan Imam Husein as. Akhirnya ia berkata kepada Ubaidillah: “Hari ini beri aku waktu untuk berkonsultasi dengan orang-orang yang aku baik. Setelah itu aku akan memberikan keputusan terakhir”. 

Orang-orang yang diajaknya untuk bermusyawarah melarangnya untuk berperang dengan Imam Husein as. Keponakan perempuan dari adik perempuannya berkata: “Demi Allah! Jangan berperang dengan Imam Husein as! Harta dan kedudukan tidak lebih berharga dari darah Husein as. Bagaimana engkau akan menghadap Allah dengan darah Husein as? 

Malam itu adalah malam paling sulit untuk Umar bin Saad. Dalam hatinya ia bergumam: 

“Apakah aku harus mencampakkan kedudukan sebagai gubernur Rey yang selama ini kuimpi-impikan ataukah aku harus membunuh anak Fathimah? Membunuh Imam Husein as menjadi penyebab aku masuk neraka. Tapi, bagaimana aku dapat melepaskan begitu saja kedudukan sebagai gubernur Rey, yang dapat mengangkat derajatku? 

Ketika matahari muncul di pagi hari, Umar pergi menemui Ubaidillah. Ia memohon agar orang lain yang dipilih dari Kufah untuk menghadapi Imam Husein as. Ubaidillah tidak menerima usulan Umar dan berkata: “Aku tidak menerima usulan orang-orang yang kau ajak konsultasi. Engkau hanya punya dua pilihan; pergi menghadapi Husein atau kembalikan surat pengangkatanmu sebagai gubernur Rey![4] 

Umar akhirnya menerima tawaran itu dan bersama 4000 pasukan menuju Karbala.Ia sudah tidak sabar lagi untuk segera menjadi gubernur Rey. Di Karbala ia berusaha agar tidak perlu sampai ada pertumpahan darah. Ia mengirim seorang utusan kepada Imam Husein as. Dalam menjawab, Imam menjelaskan tentang surat-surat yang dilayangkan kepada beliau dari penduduk Kufah. Bila mereka berbalik dari niat sebelumnya dan tidak menginginkan saya ke Kufah, maka saya akan pulang. 

Umar bin Saad menulis surat kepada Ubaidillah dan menjelaskan keinginan Imam Husein as. Ia juga menulis surat ke Kufah agar Ubaidillah tidak perlu untuk memerintahkan berperang dengan Imam Husein as. Ubaidillah mengetahui bahwa Umar bin Saad hanya ingin menghabiskan waktu dan tidak ingin berperang. Ia kemudian memanggil Syimr bin Dzil Jausyan untuk menghadapnya di istana dan menginformasikan semua tingkah laku Umar bin Saad berkenaan dengan Imam Husein as. Akhirnya, Ubaidillah mengambil keputusan untuk segera memerangi Imam Husein as. Dalam surat yang ditujukan kepada Umar bin Saad disebutkan bahwa bila ia tidak ingin melaksanakan perintah, maka pimpinan pasukan akan diberikan kepada Syimr. Karena Syimr pasti segera melaksanakan tugas yang diembannya.[5] 

Umar bin Saad melihat bahwa dia tidak punya pilihan lain lagi untuk menahan jangan sampai terjadi pertempuran. Ia juga ingin tetap menjadi pimpinan pasukan. Akhirnya dia melakukan tindakan yang membuatnya sampai pada cita-cita sebelumnya. Menjadi penguasa di kota Rey. Dari sini, keinginannya semakin kuat untuk memerangi Imam Husein as. 

Imam Husein as yang memahami perang batin yang dialami oleh Umar bin Saad memberikan dia sebuah kesempatan. Ia mengirimkan utusan kepada Umar bin Saad. Isi pesan adalah agar beliau dengan Umar dapat bertemu empat mata dan melakukan perundingan. 

Ketika keduanya bertemu, Imam Husein as mengajaknya untuk meninggalkan pasukan Yazid dan bergabung dengannya. Imam Husein as berkata: ‘Wahai anak Saad! Apakah engkau tidak takut ketika kembali kepada Allah? Apakah engkau benar-benar ingin berperang denganku? Padahal engkau tahu benar siapa aku dan siapa ayahku? Apakah engkau tidak ingin bergabung denganku dan meninggalkan Bani Umayah? Bila engkau menerima saranku, itu akan membuatmu lebih dekat kepada Allah”. 

Untuk menolak ajakan Imam Husein as, Umar mulai mengeluarkan sejumlah alasan. Ia berkata: “Bila aku menerima ajakanmu, mereka pasti akan merusak rumahku”. Imam Husein as menenangkannya dengan mengatakan bahwa ia akan memperbaiki kembali rumahnya. Lagi-lagi ia mencari alasan, mereka akan merampok semua hartaku. Imam Husein as memberikan jaminan bahwa ia akan menggantikannya lebih dari yang dirampok. Tidak cukup itu. Ia kemudian beralasan: “Bagaimana dengan anak dan istriku?  

Imam Husein as melihat bahwa Umar bin Saad tidak bakal menerima tawarannya. Akhirnya beliau berkata dengan keras: “Mengapa engkau begitu taat dengan perintah setan dan bersikeras untuk mengamalkan bisikannya?” Imam Husein as mencela sikapnya dan menjelaskan apa yang bakal menimpanya dikemudikan hari lalu meninggalkannya. [6] 

Antara Imam Husein as dan Umar bin Saad ada perundingan lain lagi. Dalam perundingan ini, Imam berkata: “Wahai anak Saad! Apakah engkau akan membunuh aku? Hanya dengan harapan Ubaidillah bin Ziyad, anak haram, akan menjadikanmu sebagai gubernur Rey? Demi Allah! Ubaidillah tidak akan pernah memberikan itu kepadamu…”[7] 

Sesuai dengan perintah dari surat terakhir yang dikirim oleh Ubaidillah, Umar bin Saad harus menutup jalur air yang mengarah ke perkemahan Imam Husein as. Hal itu membuat rombongan Imam Husein as dalam kehausan. Umar bin Saad dengan melepas anak panah dari busurnya, mengumumkan bahwa peperangan telah dimulai. Ia berkata kepada pasukannya: “Kalian harus bersaksi di hadapan Ubaidillah bahwa aku adalah orang pertama yang melepaskan anak panahnya ke perkemahan Husein”.[8] 

Tidak itu saja, ia juga melaksanakan perintah terakhir Ubaidillah. Perintahnya adalah ia dan pasukan berkuda berjalan dan menginjak-injak jasad Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya sehingga hancur tak dikenali.[9] 

Dengan perbuatannya, Umar bin Saad yang semula bingung untuk memilih kedudukan dan bergabung dengan kebatilan dibandingkan dengan memilih ikut bersama Imam Husein as. Umar akhirnya memilih kedudukan yang dilihatnya sebagai tujuan. Dan karena kedudukan sebagai tujuan, maka segala cara ditempuhnya bahkan dengan membunuh Imam Husein as, putra Fathimah Zahra as. Umar memandang kedudukan sebagai tujuan dan keluar dari pemahaman yang benar dari kedudukan. Kedudukan adalah alat yang dapat melayani masyarakat. Pribadi yang lemah, pendidikan moral yang kurang dan ketiadaan cara pandang yang dalam tentang agama membuat ia tenggelam. Ia terseret arus kebatilan karena tak mampu membaca dengan benar, mana hak dan mana batil. Akhirnya, ia harus membunuh Imam Husein as, putra Fathimah Zahra as. 

Bahaya kedudukan karena menganggapnya sebagai tujuan karena daya tariknya memang telah memakan banyak korban di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Sebuah realita yang tidak dapat dipungkiri. Dan tidak bisa tinggal diam. Ini sebuah penyakit. Ia harus dikenali dan dikuasai agar tidak lepas kendali. 

Orang-orang yang mengenal dengan baik filsafat dunia tidak akan terjerat. Mereka tahu bahwa kenikmatan dunia hanya sementara. Bila itu diyakini, kedudukan bagi mereka bukanlah tujuan. Karena ia bakal lenyap dan musnah. Kedudukan bukan sebuah tujuan. Ia hanya alat untuk melayani masyarakat. Kedudukan adalah alat untuk melawan hegemoni. Untuk membela ketidakadilan. Kedudukan adalah alat untuk menghilangkan kebejatan.  

Orang-orang yang betul-betul memahami masalah ini sangat minoritas tapi ada dan hadir di tengah-tengah masyarakat. Mereka juga berperan serta dalam bidang politik dan pemerintahan. Dengan keikhlasan, moral dan kejujuran, mereka punya semangat untuk mewujudkan kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. [Saleh L] 



[1] . Artikel koran Jomhouri-ye Eslami, edisi 7976. Judul asli “An gah keh Magam va Riasat ha Hadaf mi Shawad”.

[2] . Farhang Ashura, Javad Muhaddisi, Nashr Maruf, hal 353.

[3] . Naf sal-Mahmum, Abbas Qummi, hal 261.

[4] . Ibid, hal 262.

[5] . Irsyad, Mufid, jilid 2, hal 89-90.

[6] . Farhang Sukhanan Emam Husein as, hal 586.

[7] . Jala’u al-‘Uyun, Najisi, Bab ke 5, hal 660.

[8] . Irsyad, Mufid, jilid 2, hal 104.

[9] . Ibid, hal 118.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: